Bel tanda masuk baru saja berbunyi, memecah keheningan pagi yang mulai ramai. Langkah-langkah kaki berhamburan di koridor, menciptakan orkestra khas SMA yang selalu didengar Sasha setiap hari.
Suara riuh tawa, teriakan teman yang saling memanggil, dan dentuman sepatu beradu dengan lantai keramik seolah menjadi melodi latar yang tak pernah absen. Meski sudah hampir dua tahun duduk di bangku SMA Negeri 1 Balikpapan, atmosfer sekolah ini tak pernah berubah. Sama gaduhnya, sama hiruk-pikuknya.
Sasha berjalan dengan tenang, menenteng buku tulis tebal yang sejak semalam setia menemaninya begadang mengerjakan tugas Bahasa Indonesia.
Rambut hitamnya diikat seadanya dengan karet gelang berwarna biru, beberapa helai jatuh menutupi pipi, memberikan kesan sedikit berantakan dan tetap manis. Dari luar, dia tampak seperti siswi biasa. Tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak sepenuhnya menghilang di keramaian.
"Sha, cepatlah! Nanti bangkunya diambil orang," seru Rani, sahabatnya sejak SMP yang selalu bersemangat, berlari kecil di sampingnya. Napasnya sedikit tersengal karena terburu-buru.
Sasha hanya terkekeh pelan, langkahnya tetap santai. "Tenang aja, Ran. Yang rajin datang pagi bukan cuma kita kok. Lagian, Bu Susi belum masuk, kan?"
Keduanya akhirnya sampai di kelas XI-IPS 2. Bangku favorit mereka di dekat jendela masih kosong. Rani langsung menaruh tas ransel berwarna pink di atas meja dengan ekspresi lega, sementara Sasha menatap keluar jendela, melihat lapangan yang mulai dipenuhi siswa kelas olahraga. Beberapa di antaranya sudah berlari memutari lintasan, sementara yang lain melakukan pemanasan dengan berbagai gerakan.
Sasha bukan tipe anak yang kepo dengan semua gosip sekolah, tapi dia tahu betul siapa yang sedang jadi bahan omongan. Hampir semua teman satu angkatannya sering menyebut nama yang sama, Haikal.
Kakak kelas XII-IPA 1 yang katanya jago basket, aktif di berbagai kegiatan OSIS, dan parasnya lumayan menarik.
Posturnya tinggi, kulitnya bersih, dan senyumnya bisa membuat banyak siswi meleleh. Namun, bagi Sasha, itu semua tidak lebih dari bahan cerita kosong. Seperti headline koran yang lewat begitu saja tanpa perlu dibaca detail.
Dia mengangguk-angguk saja kalau Rani mulai membicarakan Haikal atau anak-anak populer lain. Hidupnya sudah cukup sibuk dengan urusan OSIS, tugas mading yang selalu dikejar deadline, dan seabrek PR guru yang tiada habisnya.
"Eh, Sha, kamu denger nggak? Katanya si Haikal kemarin juara turnamen basket antar sekolah lagi." Rani menggeser kursinya mendekat, suaranya berbisik-bisik penuh semangat. "Aku lihat fotonya di IG, rame banget yang komen. Followersnya langsung nambah drastis!"
Sasha mendengus pelan, membuka buku tulisnya dan mulai mencatat materi pelajaran yang akan dibahas hari itu. "Ya, baguslah. Emang dia kan pinter olahraga. Udah ah, Ran, jangan bahas itu terus. Aku mau fokus belajar."
"Ya ampun, kok flat banget sih reaksimu? Coba aja kamu lihat, senyum dia tuh bikin melting!" Rani menepuk pipinya sendiri dramatis, seolah membayangkan senyum Haikal di depan matanya.
Sasha hanya mengangkat bahu, berusaha tidak tertarik dengan topik pembicaraan Rani. Jujur, dia lebih tertarik membahas soal konsep mading bulan depan yang belum rampung ketimbang mengulas senyum seorang kakak kelas yang bahkan tidak dikenalnya secara pribadi. Namun, hari itu sesuatu terjadi. Sesuatu yang sederhana, tapi diam-diam mengubah arah cerita yang selama ini ia yakini.
Saat jam istirahat pertama, mereka duduk di kantin yang penuh sesak. Suara baki beradu, antrean panjang di depan warung Bu Sumi, dan wangi gorengan bercampur dengan asap mie instan yang mengepul menciptakan aroma khas kantin sekolah.
Sasha sedang sibuk meniup es teh manis yang terlalu penuh di gelas plastiknya ketika Rani tiba-tiba menunduk ke arahnya dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
"Aku tahu rahasiamu," bisik Rani, suaranya pelan dan penuh penekanan.
Sasha mengerjap, hampir tersedak teh manis yang diminumnya. "Rahasia apa?" tanyanya bingung.
"Jangan pura-pura polos deh. Kamu suka sama Bayu, kan? Aku lihat kamu sering curi-curi pandang ke dia pas pelajaran Bahasa Inggris."
Sasha terbelalak. Pipinya panas seketika, merasa malu dan ketahuan. "Hah?! Ngaco!" bantahnya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Ngaco apanya. Tadi pagi aja pas dia lewat depan kelas, kamu langsung nutup buku buru-buru. Aku tahu itu ekspresi orang gugup yang lagi salting," goda Rani, semakin menjadi-jadi.
Sasha menunduk, memainkan sedotan di gelasnya dengan gelisah. Memang benar dia sempat naksir Bayu, cowok sekelas yang terkenal supel, humoris, dan suka bercanda, tapi semua itu masih samar, sebatas rasa penasaran remaja yang mudah datang dan pergi, dan sekarang, dengan mudahnya Rani membuka topik itu di kantin ramai, Sasha merasa harga dirinya terancam. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian karena hal seperti ini.
"Udahlah, Ran. Jangan heboh gitu, malu tahu!" gumamnya, berusaha menghentikan Rani.
Rani tidak menyerah. "Eh, coba-coba sebut siapa lagi yang kamu suka. Aku penasaran banget. Jangan-jangan kamu suka sama kakak kelas ya? Hayooo ngaku!"
Sasha spontan mendongak, menatap Rani dengan tatapan kesal. "Nggak ada, sumpah! Aku nggak suka sama siapa-siapa," elaknya, berusaha meyakinkan Rani bahwa dia tidak tertarik pada siapa pun.
Rani menyipitkan mata, menatap Sasha dengan tatapan menyelidik. "Beneran nih?" tanyanya, seolah tidak percaya dengan perkataan Sasha.
Demi menutupi rasa malunya dan menghentikan godaan Rani, Sasha akhirnya melontarkan kalimat yang kelak akan ia sesali atau mungkin justru akan mengubah segalanya.
"Ya udah, kalau kamu maksa banget, aku bakalan kasih tahu. Aku suka sama Kak Haikal," ucapnya dengan nada bercanda, berharap Rani akan menganggapnya sebagai lelucon belaka.
Seketika, Rani terdiam, membeku di tempatnya. Lalu, seperti bom waktu yang baru saja diaktifkan, ledakan tawa meletus dari mulutnya. "HAHAHAHA! Ya ampun, seriusan? Sasha naksir Haikal? Gila, ini bakal jadi berita besar di sekolah!"
"SSSTT!!" Sasha buru-buru menutup mulut Rani dengan tangannya, wajahnya semakin memerah karena malu. "Jangan kenceng-kenceng! Ini cuma bercanda, tahu!"
Nasi sudah menjadi bubur. Beberapa teman yang duduk di meja sebelah menoleh ke arah mereka, saling bisik-bisik sambil tersenyum penuh arti.
Wajah Sasha memanas, setengah menyesal karena telah mengucapkan kalimat itu, setengah ingin kabur dari kantin dan bersembunyi di suatu tempat yang jauh. Dia hanya berniat bercanda, melontarkan nama sembarang biar topik cepat selesai, tapi di sekolah, satu kalimat kecil bisa menyebar lebih cepat daripada api menyambar bensin di rumput kering.
Sepulang sekolah, desas-desus itu mulai terdengar di sepanjang koridor. Beberapa anak menyenggol bahunya sambil menggoda, "Sha, titip salam buat Kak Haikal ya!" atau "Wih, berani juga kamu naksir senior. Semoga sukses, ya!"
Sasha hanya bisa menunduk, berusaha menepis semua godaan itu dengan senyum canggung dan langkah cepat. Dalam hati, ia menggerutu. "Kenapa sih aku harus nyeletuk nama itu? Kenapa juga Rani harus percaya?"
Di kamarnya yang berukuran tidak terlalu besar malam itu, Sasha duduk di depan meja belajar. Buku-buku pelajaran berserakan di atas meja, lampu belajar menyala temaram, memberikan penerangan yang cukup untuk menulis. Ia membuka jurnal kecil bersampul cokelat tempatnya biasa mencurahkan isi hati dan menuliskan hal-hal yang tidak bisa ia bagi pada siapa pun.
"Tadi aku asal ngomong, tapi rasanya aneh. Semua orang jadi percaya kalau aku suka sama Haikal. Padahal aku bahkan nggak pernah benar-benar ngobrol sama dia secara langsung. Apa aku salah karena udah ngomong gitu? Atau jangan-jangan ini memang awal dari sesuatu yang aku sendiri belum tahu?" tulisnya di jurnal dengan tinta biru kesukaannya.
Pena berhenti menari di atas kertas. Sasha menatap keluar jendela, bulan separuh tergantung sendirian di langit malam yang bertaburan bintang.
Entah kenapa, nama Haikal kini terasa lebih dekat daripada sebelumnya. Bayangan wajahnya, senyumnya, dan semua hal tentangnya tiba-tiba muncul di benaknya. Apakah ini hanya efek dari gosip yang beredar, ataukah memang ada sesuatu yang mulai tumbuh di hatinya?