


oleh Bunga Hitam · 30 Bab
Labibah kini masuk dalam cengkeraman Nyai Palasara. Dendam dan rasa sakit hatinya menjadikan dirinya masuk dalam kutukan yang tak disengaja. Persekutuannya dengan gaib membuat Labibah kini harus melawan Jiwo. apakah Jiwo mampu menyelamtkan Labibah?
1940
"Bakar rumah bordil itu! Bakar!" Seruan penuh kemarahan berasal dari rombongan beberapa warga yang membawa obor malam itu.
Seketika itu juga, rumah dengan tatanan mirip losmen ramai oleh tamu yang tak diundang. kedatangan yang tiba-tiba menjadikan sebagian pengunjung nampak kocar-kacir ketakutan dan berlarian untuk menyelamatkan diri
Terlihat beberapa sinden terpaksa berhenti menyanyi serta merta langsung bangkit dari duduknya lalu segera pergi memisahkan diri dari kepungan yang membuat mereka panik. Suara jeritan, makian dan suara-suara benda berjatuhan pun membuat malam itu semakin mencekam saja.
Rumah bordil milik Nyai Palasara memang sangat terkenal. Terletak di sebuah tempat yang cukup strategis dan hanya orang-orang borjuis saja yang mampu berkunjung. Tempat favorit berkumpulnya para sinyo dan menir Belanda yang butuh hiburan musik juga pelukan hangat, walaupun hanya semalam dari wanita penghibur yang kebanyakan berasal dari pribumi.
"Nyai! Nyai! Cepat pergi," seru Bondan lelaki berbadan kurus yang gugup mengetuk pintu serta memanggil majikannya untuk segera menyelamatkan diri dari serbuan warga yang ingin membakar tempat tersebut.
Wanita cantik berbaju kebaya berwarna hijau pupus itu pun keluar dari kamarnya, diikuti lima wanita cantik di belakangnya.
Wajahnya cemas. "Apa sudah kau siapkan semuanya?" tanyanya lirih.
"Sudah Nyai, ayo ikut dengan saya."
Wanita yang dipanggilnya Nyai itu segera menyuruh lima anak buahnya untuk segera keluar secepatnya.
"Jangan lupa bawa harta perhiasan kalian, cepat sebelum tragedi ini terjadi."
Semuanya beriringan keluar dari kamar tersebut termasuk Nyai Palasara. Sebuah pintu rahasia dilaluinya. Mereka pun berjalan di gelap malam menyusuri jalanan yang masih bersemak belukar.
"Silakan Nyai."
Sebuah pedati sudah tersedia, dengan cepat Nyai Palasara menyuruh kelima anak buahnya segera naik.
"Ayo, kalian masuk duluan. Ingat pesanku." Nyai Palasara memberikan masing-masing anak buahnya sebuah batu giok berwarna hijau terang. "Ini akan menyematkan diri kalian, jangan sampai hilang."
Mereka menerima batu tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Pedati pun berjalan dengan perlahan.
Kembali Nyai menatap keadaan rumah bordil miliknya dari kejauhan. Terlihat api sudah membakar tempat tersebut. Asappun menghitam menghiasi langit.
"Ayo Nyai, Cepat!" Sebuah suara mengangetkan Nyai Palasara. Pedati yang lain sudah ada di depannya. Kali ini ia tak melihat lagi siapa pengandara pedati tersebut. Asal ia masuk dan selamat dari marabahaya.
Tragedi yang sudah ia ketahui pun terjadi. Rumah bordil miliknya kini sudah rata dengan tanah. Tak ada identitas yang tertinggal dari pembakaran rumah maksiat tersebut.
Hingga kemerdekan Republik Indonesia pun tercetuskan. Namun, kasus Nyai Palasara ini bagaikan hilang tertelan bumi.
Dua puluh tahun kemudian. Pada tahun 1960 adalah sebuah tahun keemasan untuk para sinden. Persaingan semakin sengit. Banyak para penyanyi Jawa tersebut meminta pada orang pintar untuk memberikan suara indah, banyak penggemar, bahkan ada yang meminta agar si sinden menjadi kaya raya dengan cara instan.
Hingga tahun berganti tahun, nama Nyai Palasara kembali hangat di kalangan sinden beken.
Tak jarang mereka sengaja mendatangi suatu tempat untuk mencari Nyai Palasara ini. Lagi-lagi disaat jaya-jayanya. Nyai yang selalu berkemben dengan kebaya hijau ini mendapatkan hal yang tak mengenakan hati.
Tempatnya tinggalnya dilanda bencana. Sebuah longsor telah meratakan tempat prakteknya. Kediaman Nyai yang sudah menua ini berada di sebuah tempat yang tersembunyi, sehingga tak memungkinkan team SAR menemukan tempat yang terkena bencana tersebut. Kembali nama Nyai Palasara tenggelam tak berbekas.
Desa Pacul di tahun 1980
Iringan lima wanita cantik berkemben dengan rambut terurai panjang itu muncul secara tiba-tiba. Kehadirannya selalu diawali dengan datangnya gerimis. Asap dupa tercium menyeruak indra penciuman. Terlihat lelaki paruh baya penjual tembakau segera bergerak cepat untuk menutup pintu tokonya. Ia tak pedulikan lagi orang-orang yang sudah berlarian tunggang langgang untuk segera pulang atau sekadar masuk ke rumah orang lain walaupun hanya untuk bersembunyi.
Tak ada sebuah himbauan untuk penyelamatan diri. Para penduduk Desa Pacul seakan sudah tahu hal apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi.
"Pasti besok akan ada korban lagi. Desa ini sudah tidak aman," desisnya pelan lalu mencoba mengintip dari sela sempit pintunya.
Langit menggelap, Desa Pacul terlihat sunyi dan mencekam.
"Nuri! Jangan bawa anakku! Dia belum dewasa!"
Tiba-tiba saja sebuah teriakan berasal dari seorang ibu yang mencoba menarik tangan anaknya yang kini sudah berada dalam cengkraman salah satu dari rombongan wanita berkemban itu
"Ini sudah perintah!" bentaknya dengan kasar.
Tangan wanita itu mendorong dengan keras si ibu hingga ia terjatuh ke tanah yang basah.
"Ibu!" seru gadis remaja yang sedari dari berusaha berontak untuk melepaskan diri.
Sebuah kilat petir menyambar dengan keras. Sinarnya menguasai tempat tersebut.
Saat itu juga jantung lelaki yang sedang mengintip dari sela pintunya kaget tiada terkira. Kilat cahaya yang walaupun hanya sesaat itu memperlihatkan sebuah pemandangan yang berbeda.
Bukan wanita cantik berkemban yang sedang mencengkeram lengan gadis remaja itu, tapi seorang wanita tua, dengan tubuh bungkuk, berkeriput dengan beberapa helai rambut di kepalanya yang sebagian sudah botak.
Penjual tembakau itu mundur perlahan menjauhi pintu, karena salah satu pengiring iringan tampaknya tahu dengan apa yang sudah ia lakukan.
Brak! Pintu tokonya terbuka dengan kerasnya. Angin dan air langsung menerpa wajah orang itu yang sudah memucat ketakutan.
"Kau sudah mengintip! Kau harus terima akibatnya!"
Tak ada kesempatan untuk menarik napas ataupun berkedip. Tangan wanita tua itu sudah terjulur lalu menekan keras ke batang leher lelaki tersebut. Meremasnya hingga urat nadi lehernya pecah dan terdengar bunyi "kretek". Seketika tubuhnya terjatuh dengan keras ke lantai yang terbuat dari kayu. Terlihat bekas telapak tangan berwarna hitam di leher yang kini tampak sedikit miring karena patah. Mata si pemuda tersebut hampir lepas dari tempatnya. Seketika darah menyembur dari mulutnya, tubuhnya menggelepar kemudian tak lama terdiam kaku.
"Bawa gadis itu segera pergi dari sini!!" teriaknya memerintahkan kepada yang lainnya. Kembali iringan itu berbalik arah dan menghilang di ujung gang yang gelap.
"Nuri ...." Kini tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya terdengar menyayat hati. Warga tak ada yang berani keluar. Apa lagi sudah ada korban jiwa yaitu si penjual tembakau.
Hujan semakin deras mengguyur desa pacul. Tampaknya kali ini akan sunyi senyap dan gelap gulita sepanjang malam karena tak ada yang berani menyalakan damar di setiap rumahnya.
Mengapa Nuri dibawa rombongan berkemban? Siapakah mereka?

Bunga Hitam
76 Pengikut · 10 Novel