


oleh Eliyona · 136 Bab
Setelah menyaksikan sendiri ibunya tewas di tangan ayah tirinya, Bolt menjadi pribadi yang tak lagi sama. Trauma membekas selama hidupnya. Ia dipindahkan ke kota lain, demi menyembuhkan luka, tapi Bolt justru terjebak pada luka yang lebih dalam. Dia dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan. Sementara itu Salad sahabat Bolt, mengalami pelecehan yang merenggut masa kecilnya. Ia mencoba menjadi senyum untuk Bolt, meski bayangan kelam mengguncang jiwanya. Salad mencoba menyimpan luka di balik kebahagiaan palsu yang ia perlihatkan.
Bolt memegang kepalanya yang sakit. Bayangan itu menyisakan luka. Ia tak pernah bisa lupa. Trauma itu menyekapnya dalam bayang gelap dunia.
Bolt terus berjalan dengan tertatih. Dapur menjadi tujuannya. Ia ingin bertemu ibunya.
“Ma," ucapnya pelan. Seorang wanita dengan rambut pendek, menoleh. Wajah teduhnya menatap prihatin. "Ada apa, Bolt?" tanyanya.
“Ma, lihatlah!” Bolt menunjukan goresan yang ada di dahi, tangan dan kaki kepada Hana, ibunya.
Hana melihat sekilas lalu menghela napas panjang. Bukan sekali ini saja Bolt berkeluh kesah. Hampir setiap hari, sejak ia menikah lagi, Bolt selalu mengadukan ayah tirinya .
“Bahkan di taman yang banyak orang, dia berani melakukannya. Anehnya, semua orang diam.” Bolt menambahkan cerita.
"Makanya jangan nakal,” balas Hana berusaha tegar meski hatinya sakit.
“Selalu saja aku yang disalahkan, walau aku tidak salah. Rai itu kasar. Dia pria jahat."
Ucapan sengit Bolt dibalas lembut Hana, “Mungkin Papa Rai sedang ada masalah kantor. Beliau itu pimpinan tertinggi di kota ini, banyak hal yang harus dipikirkan. Jadi mengertilah.”
“Mengerti? Untuk apa? Lagi pula dia bukan papaku. Aku tak pernah menganggapnya ada,” ucap Bolt sengit. “Papaku itu Nort! Dia sudah meninggal."
“Roda itu terus berputar, Bolt. Kalau kau terus menolak Rai, tentu saja dia marah. Jadilah anak baik, jangan terus memberontak.” Hana mulai beranjak, mengambil kain dan mulai merebus air. “Tunggulah, Mama akan membersihkan lukamu.”
Bolt melihat sang ibu dari belakang. Fokusnya mengarah kepada kaki Hana yang memar.
“Ma,” panggilnya lagi. “Kaki Mama memar. Apa itu gara-gara Rai?”
Hana tidak menjawab. Suasana hening. Ia malah mengambil wadah besar, mencampurkan air panas dan dingin, membuatnya hangat.
“Ma! Jawab!” Bolt berbicara dengan nada tinggi, membuat Hana berhenti sejenak, ia meletakkan wadah dan meminta Bolt mendekat.
“Mama kurang berhati-hati sehingga jatuh dan memar,” balasnya. “Sekarang duduklah! Mama akan membersihkan lukamu!”
Perintah Hana langsung diturut. Ia mulai mengelap pelan kaki Bolt, membuat bocah itu meringis.
"Sakit," ucap Bolt sambil menahan tangan sang ibu. “Berhenti, Ma. Ini sakit!” Bolt menepis tangan Hana, kasar.
"Laki-laki tidak boleh cengeng dan mengeluh.” Hana kembali membersihkan noda merah di kaki Bolt. “Diam dan tenang!”
Wajahnya menegang saat melihat garis pada tangan Bolt. Goresan itu panjang dan dalam. Dengan tangan gemetar, Hana mengusapnya. Terlihat noda merah, masih menetes, tapi ia berusaha tenang. Walaupun terlihat tegas, Hana tetaplah seorang ibu. Matanya berkaca melihat Bolt yang meringis, menahan sakit.
Sekelibat bayangan masa lalu, muncul. Pernikahan dengan Rai, bukan hal yang ia inginkan. Hana terpaksa demi bisa bertahan hidup.
Nort ditemukan tewas. Polisi mendapati surat utang dalam jumlah besar membuat Hana tercengang. Ia putus asa sampai ingin menyusul suaminya, tapi saat melihat tangisan Bolt, niatnya mengendur.
Hana mendatangi Rai, meminta jangka waktu pelunasan. Namun, ia malah mendapat tawaran menjadi istri ketiga. Hana awalnya menolak dan memilih bekerja apa pun, demi mendapat uang.
Akan tetapi, ketika tempat tinggalnya disita oleh bank, ia kehilangan harga diri dan menemui Rai, untuk menanyakan tawaran menjadi istri. Pernikahan mereka dilangsungkan, tanpa persetujuan kedua istri Rai.
“Ma!” Panggilan Bolt membuyarkan lamunan. Hana mendongak, melihat putranya.
“Aku akan bicara dengan Rai. Sekarang masuklah ke kamarmu,” ucapnya.
Bolt mengangguk dan menurut. Ia berjalan menuju pintu. Baru akan memegang kenop, tanpa diduga Rai masuk dengan wajah masam.
Bolt ketakutan melihat wajah pria kulit hitam itu. Tubuhnya mundur, kembali masuk ke dalam kamar.
“Bolt takut padamu, Rai.” Hana beranjak dari duduknya, menghampiri, lalu memeluk pundak Bolt. “Aku tak akan membiarkanmu menyentuh putraku!” Ia menatap Rai menusuk. Hana hampir kehilangan batas sabar, baginya perlakukan Rai sudah keterlaluan.
Rai membalas ekspresi kesal Hana dengan senyum. Tanpa dosa, ia malah terbahak dan mendekatkan tubuhnya mendekati Hana. Tangannya mencengkeram pipi istrinya kuat.
“Kau berani menantangku!” Satu kali dorongan saja, ia berhasil membuat Hana terhuyung mundur.
“Apa yang kau lakukan pada Mama?” Bolt bersiap menyerang, tapi Hana dengan cepat menahan.
“Kau masuklah ke dalam kamar!” Hana mendorong tubuh Bolt, membuatnya keluar dari pintu. Tanpa pikir panjang, ia lalu mengunci pintu dari dalam. Pertengkaran kali ini, Bolt tak boleh melihat.
Rai menyeringai. Tanpa aba-aba, ia mengempaskan tubuh Hana, membuatnya terpojok sampai membentur tembok. Ia mengenggam kuat tangan sang istri, bersiap mengecupnya akan tetapi ia malah mendapat penolakan.
“Lepaskan!” Hana menepis tangan Rai. “Aku muak denganmu. Kau hanya pria penipu yang mengambil keuntungan dari rakyat.”
“Apa kau bilang?” Rai semakin mempererat pegangan tangannya. “Aku adalah penguasa di sini. Siapa pun yang melawan, aku akan menyingkirkannya.”
Sekelebat, Hana mencium aroma alkohol, membuat tubuhnya gemetar. Rai selalu kasar apabila dia mabuk. Didorongnya tubuh Rai menjauh dan ia mulai melangkah mundur. Takut. Akan tetapi, dengan sekali pergerakan, Rai menjambak rambutnya, membuat ia mendongak, menatap wajah pria yang baru dalam hitungan bulan menjadi suami.
“Aku akan mengirim anakmu ke langit, supaya dia bisa bertemu ayahnya. Supaya kita hanya berdua dan kau mengakui betapa berkuasanya Rai yang agung,” ucapnya keras sambil mendorong Hana ke tembok. Tak hanya sampai di situ, Rai bahkan menyudutkan Hana, membuatnya lunglai.
Bruk.
“Kau ini bukan siapa-siapa, hanya barang bekas yang kupungut dari sampah. Jadi jangan berani menentangku!” Dengan kasar Rai mulai bermain tangan, bertubi-tubi membuat Hana semakin tak berdaya.
Sementara itu di luar pintu, terdengar suara ketukan dan teriakan Bolt memanggil ibunya. “Mama!”
Rai menoleh, tersenyum penuh rencana. Ia beranjak, bersiap melangkah menuju pintu, tapi tangan Hana menahannya.
“Jangan kau sentuh anakku!”
Rai menepis cepat, kembali membanting tubuh Hana ke lantai.
Kali ini suara empasan itu lebih keras.
Brukkkk.
“Mama!” Bolt semakin keras mengetuk pintu. “Apa pria jahat itu memukulmu?”
“Dia hanya anak kecil Rai.” Hana memeluk kaki suaminya, memohon supaya dia tidak membuka pintu.
“Ma! Buka. Aku akan memberi pelajaran kepada pria jahat itu. Akan aku laporkan dia ke polisi.” Ancaman Bolt membuat mata Rai membelalak. Namun, Hana menahan kaki Rai lebih kuat, pandangannya memelas.
“Aku tak akan membiarkanmu melakukan hal buruk kepada putraku!”
“Aku tidak akan melakukan itu lagi, tapi aku akan mengirimnya kepada Nort.” Ancaman Rai membuat Hana menggeleng cepat.
“Tidak. Jangan sentuh anakku.” Suaranya mengiba. “Aku sudah menuruti apa pun keinginanmu. Biarkan anakku pergi.” Hana semakin mengeratkan tangannya pada kaki Rai.
“Lepas!” Rai menepis tangan Hana dengan kakinya. Sementara tangannya terulur meraih gagang pintu sampai ia berhasil menarik kenop dan membukanya.
Senyum tersungging, saat ia mendapati ekspresi wajah Bolt yang pucat.
“Ma!” Bocah itu langsung menghampiri Hana, tapi Rai menarik belakang kerah bajunya membuatnya tertahan.
“Kau ini mirip sekali dengan pria menyebalkan itu. Kau pasti kangen dengan Nort, dia sudah menunggu.” Rai menahan tubuh Bolt, ke luar pintu.
Takut hal buruk benar terjadi, Hana berlari menyusul. Ia tersentak saat melihat Rai yang bersiap melakukan sesuatu kepada Bolt.
“Hentikan!” Hana menarik Bolt dan menggantikan tubuh sang putra. Pergerakannya sangat cepat, membuat sabetan benda tajam itu beralih ke pundaknya.
Jleb.
Hana lemas dengan kondisi tangan kiri memprihatinkan, bersimbah noda merah. Bolt terkesiap. Tubuhnya gemetar dengan kedua mata berkaca.
Hana yang masih sadar, melakukan pertahanan terakhir demi melindungi sang putra. Rai terhuyung jatuh bersimbah cairan merah pekat. Dengan tenaga terakhir, Hana merangkul sang putra. Ia sudah menjadikan tubuhnya tameng hidup.
Sebelum ia mengembuskan napas penutup, Hana berbisik kepada Bolt, “Pergi. Jangan mati.” Bersamaan dengan kata terakhir yang terucap, tubuh Hana langsung terkapar.
Bolt berteriak keras, ia menangis sejadinya, memanggil ibunya.
“Mama, bangun, Ma.” Bolt mengguncang tubuh ibunya yang kaku tak bergerak.
Trauma menyelimuti. Bolt ketakutan. Warna merah di tangan, membuat mata membulat, tubuh lemas, gemetar dan jiwanya terguncang seketika.
“Aku takut,” ucap Bolt lirih.

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel