Hujan turun sejak senja, membasahi deretan gedung pemerintahan yang menjulang seperti tembok dingin di tengah kota metropolitan. Dari kejauhan, bangunan itu tampak biasa, dinding abu-abu, jendela-jendela gelap, serta lambang negara yang berkilau diterpa lampu sorot.
Tidak ada siapa pun yang akan menduga bahwa puluhan meter di bawah fondasinya, lorong-lorong beton menghubungkan ruang arsip, pusat data, laboratorium forensik digital, hingga bunker yang keberadaannya tak pernah tercantum dalam satu pun cetak biru resmi.
Di sanalah organisasi bernama Administrasi menjaga rahasia terbesar negeri ini.
Dengung pendingin server memenuhi udara. Lampu neon memancarkan cahaya pucat yang bergetar halus. Kamera pengawas bergerak perlahan mengikuti setiap sudut lorong. Printer industri terus memuntahkan lembar demi lembar dokumen tanpa jeda. Aroma kertas tua bercampur logam memenuhi ruangan.
Malam itu, tiga bayangan bergerak cepat melewati koridor servis. Aurel berada paling depan. Perempuan itu mengenakan jaket gelap tanpa tanda pengenal. Kartu akses palsu terselip di saku dada, sementara earphone mini terhubung dengan perangkat komunikasi senada di balik telinganya.
Di belakangnya berjalan Raka, ahli forensik digital yang membawa tas ransel berisi peralatan peretas. Jemarinya tak pernah jauh dari tablet kecil yang terus menampilkan aliran data. Orang terakhir adalah Sinta. Mantan analis arsip negara itu mengenali hampir seluruh struktur gedung bawah tanah. Tatapannya terus berpindah dari peta digital menuju lorong di depan.
"Kamera berikutnya berputar setiap sembilan detik," bisiknya. Aurel mengangguk. "Sekarang!"
Mereka melintas tepat ketika lensa kamera berputar ke arah berlawanan. Sepatu mereka hanya menghasilkan bunyi lirih di atas lantai epoxy yang licin. Di ujung lorong, sebuah pintu besi berdiri kokoh. Lampu indikatornya merah.
Raka berjongkok. Ia menghubungkan sebuah perangkat seukuran ponsel ke panel akses. Layar tablet berkedip cepat. "Enkripsi generasi baru."
"Bisa dibuka?"
"Kalau mereka belum memperbarui algoritmenya malam ini," suara ketukan tombol terdengar cepat. Detik demi detik berlalu. Kemudian, klik! Lampu merah berubah hijau.
Pintu bergeser perlahan disertai desis hidrolik. Udara dingin langsung menyergap wajah mereka. Ruangan di baliknya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Rak-rak logam menjulang hingga langit-langit. Ribuan boks arsip tersusun rapi dengan kode angka yang tidak mengikuti sistem kementerian mana pun.
Di sela-sela rak berdiri terminal komputer yang masih menyala. Monitor-monitor itu menampilkan daftar nama. Lalu, nama-nama tersebut menghilang satu per satu seolah tak pernah ada.
Sinta menatap layar dengan wajah pucat. "Mereka sedang menghapus identitas." Aurel mendekat. "Apa maksudmu?"
"Ini bukan penghapusan data biasa," Sinta menggerakkan tetikus. Setiap nama yang terhapus langsung kehilangan seluruh keterkaitan. Nomor induk kependudukan. Rekam medis. Catatan pendidikan. Riwayat pekerjaan. Data pajak. Bahkan, akta kelahiran.
Dalam hitungan detik seseorang benar-benar lenyap dari sistem negara. Raka menarik napas panjang. "Kalau semua basis data saling tersinkron."
"Orang itu secara administratif tidak pernah lahir," sambung Sinta lirih. Keheningan mendadak terasa jauh lebih berat. Aurel merasakan bulu kuduknya berdiri. "Salin semuanya!"
Raka langsung memasang kabel ke terminal utama. Deretan kode memenuhi layar. Proses penyalinan dimulai. Tiga persen. Lima persen. Tujuh persen. Tiba-tiba seluruh monitor berkedip. Lampu ruangan meredup sesaat. Alarm kecil berbunyi. Piip. Piip. Piip. Raka membeku. "Sial!"
"Ada apa?"
"Seseorang masuk ke jaringan."
"Petugas?"
Raka menggeleng pelan. "Bukan!" Ia memperbesar salah satu jendela program. "Orang ini tidak melacak kita."
"Lalu?"
"Ia justru membuka akses."
Aurel saling berpandangan dengan Sinta. Tidak masuk akal! Siapa pun yang menjaga fasilitas ini seharusnya mengunci seluruh sistem, bukan membukanya. Di layar muncul satu kalimat. “LANJUTKAN KE RUANG ARSIP NOL”. Lalu, menghilang. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada identitas. Tidak ada jejak digital.
Sinta menggigit bibir. "Itu jebakan!"
"Belum tentu," jawab Aurel. "Kalau mereka ingin menangkap kita, alarm besar sudah berbunyi sejak tadi."
Raka menelan ludah. "Masalahnya, orang yang mengirim pesan ini punya hak akses tertinggi."
"Seberapa tinggi?"
Raka terdiam beberapa saat. "Lebih tinggi daripada direktur pusat data." Suasana berubah dingin. Jauh di dalam lorong terdengar dentuman logam. Disusul langkah-langkah berat. Bukan satu orang. Puluhan. Senter-senter mulai menyapu dinding. Suara radio komunikasi bergema. "Tim Delta menuju Sektor Tiga. Periksa seluruh ruang arsip. Tidak boleh ada penyusup keluar."
Aurel mematikan monitor. "Kita harus pergi!" Raka mencabut perangkatnya. "Data baru tersalin tiga puluh persen."
"Itu lebih baik daripada tidak sama sekali." Mereka berlari keluar ruangan. Koridor kini dipenuhi lampu darurat berwarna merah. Sirene mulai meraung. Pintu-pintu besi menutup otomatis satu per satu.
Dari balik ventilasi terdengar suara motor lift servis bergerak turun. Sinta berhenti mendadak. "Bukan lewat depan."
"Lalu?"
"Ada jalur lama," ia menunjuk celah sempit di balik rak utilitas. Mereka merunduk memasuki lorong servis yang hanya cukup dilewati satu orang. Dindingnya lembap. Pipa-pipa tua memenuhi langit-langit. Bau oli bercampur debu memenuhi udara. Getaran kereta bawah tanah terdengar samar dari kejauhan.
Mereka terus bergerak. Cepat, tapi tanpa suara. Hingga sebuah pintu baja kecil muncul di ujung lorong. Di atasnya hanya terdapat satu tulisan yang mulai pudar. “ARSIP 0”. Raka memicingkan mata. "Aneh!"
"Apanya?"
"Denah gedung yang kita curi tidak pernah menunjukkan ruangan ini."
Sinta mengusap permukaan pintu. Tangannya berhenti pada sebuah lambang kecil yang hampir tak terlihat. Lambang itu bukan lambang kementerian, atau lambang negara. Melainkan gambar lingkaran dengan huruf A yang dipotong garis vertikal.
Wajah Sinta mendadak kehilangan warna. "Aurel!"
"Ada apa?"
Sinta menatap lambang tersebut tanpa berkedip. "Aku pernah melihat simbol ini."
"Di mana?"
"Dua belas tahun lalu."
"Hari ketika seluruh arsip ayahmu dinyatakan terbakar?" tanya Raka pelan. Sinta mengangguk. "Ayahku belum meninggal!" Kalimat itu menggantung di udara.
Belum sempat siapa pun bertanya lebih jauh, terdengar bunyi mekanis dari balik pintu. Klik. Klik. Klik. Pintu baja itu terbuka sendiri. Dari balik kegelapan muncul cahaya monitor berwarna biru. Lalu, terdengar suara seseorang. Tenang. Dingin. Seolah sudah menunggu mereka sejak lama. "Selamat datang. Administrator telah menyiapkan nama baru untuk kalian."