"Jangan pernah melihat ke belakang setelah melewati pohon beringin kembar itu, Nduk. Apa pun yang memanggil namamu, teruslah berjalan."
Kalimat berbisik dari Pak Joko, pengemudi mobil pikap tua yang mengantarkan Kirana, memecah keheningan kabut sore.
"Memangnya ada apa di sana, Pak?" tanya Kirana sambil merapatkan jaket rajutnya.
Udara dingin di lereng gunung ini mendadak terasa menusuk hingga ke tulang. Jenis dingin yang aneh, karena seketika membuat tengkuk Kirana meremang.
Pak Joko tidak menjawab. Beliau langsung menginjak pedal gas lebih dalam ketika roda mobil melewati bayangan gapura.
Begitu pikap tua itu melintasi batas desa, deru mesinnya mendadak terdengar parau, seolah-olah udara di tempat tersebut terlalu berat untuk dihirup. Di kanan dan kiri jalan, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, menghalangi sisa-sisa cahaya matahari yang meredup di ufuk barat.
Desa Karang Anom menyambut mereka dengan keheningan yang janggal. Tidak ada suara anak-anak bermain di pekarangan, tidak ada gonggongan anjing, bahkan kepakan sayap burung pun absen dari udara.
Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi di sepanjang jalan berbatu. Semuanya memiliki satu kesamaan, pintu dan jendela tertutup rapat, seolah penghuninya sedang bersembunyi dari sesuatu yang tidak terlihat.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah joglo besar di tengah desa. Seorang pria paruh baya dengan pakaian batik gelap dan blangkon lurus di kepalanya sudah berdiri di teras. Wajahnya dihiasi senyum yang teramat lebar, jenis senyum yang tidak sampai ke mata.
"Selamat datang, Kirana. Kami sudah lama menunggumu," sapa pria itu saat Kirana turun dari bak pikap. Suaranya berat, bergema di antara kesunyian malam yang mulai jatuh.
“Saya Broto, Kepala Desa Karang Anom."
"Terima kasih sudah menerima saya di sini, Pak Broto," jawab Kirana sambil menjabat tangannya. Kulit tangan pria itu terasa dingin, seperti menyentuh permukaan batu sungai di pagi hari.
"Saya berharap tugas saya sebagai guru honorer di sekolah desa bisa membantu anak-anak di sini."
"Tentu, tentu saja. Kehadiranmu di sini sangat berharga bagi kami. Lebih dari yang bisa kamu bayangkan," ujar Pak Broto. Matanya menatap Kirana lurus, memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar yang membuat gadis itu tidak nyaman.
Warga desa mulai bermunculan dari balik bayang-bayang rumah joglo. Mereka membawa nampan berisi makanan tradisional dan minuman hangat.
Wajah mereka ramah, senyum mereka terkembang sempurna, tetapi ada sesuatu yang ganjil. Mereka semua bergerak dengan sangat tenang, hampir tanpa suara langkah kaki.
"Mari, saya antar ke rumah dinasmu. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh." Pak Broto memimpin jalan menuju sebuah rumah kayu kecil yang terletak agak terpisah di dekat pinggiran hutan.
Pak Joko, sang pengemudi pikap, buru-buru menurunkan koper Kirana ke teras rumah baru itu. Sebelum Kirana sempat mengucapkan terima kasih, pria tua itu sudah melompat kembali ke kursi kemudi. Mobilnya berbalik arah dengan tergesa-gesa, meninggalkan kepulan asap hitam dan debu jalanan.
Pria itu pergi bahkan sebelum malam benar-benar gelap, seolah dikejar oleh setan.
"Abaikan Joko, dia memang penakut," kata Pak Broto tenang, mengunci pandangan Kirana.
“Di desa ini, kamu aman, Kirana. Asalkan kamu mematuhi satu aturan sederhana kami, jangan pernah keluar rumah setelah jam sembilan malam. Pintu harus dikunci dari dalam. Paham?"
Kirana hanya mengangguk pelan, menyembunyikan rasa heran yang mulai menumpuk di dada. Mengapa harus jam sembilan malam? Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan melihat tatapan mata Pak Broto yang mendadak menajam saat mengucapkan peringatan tersebut.
Setelah memastikan Kirana masuk, Pak Broto dan rombongan warga pamit undur diri, melebur kembali ke dalam kegelapan desa.
Rumah dinas itu sangat sederhana. Sebuah ruang tamu kecil, dapur minimalis, dan satu kamar tidur dengan kasur kapuk tua. Kirana menyeret kopernya ke dalam kamar. Suasana di dalam ruangan terasa sangat pengap.
Aroma kayu lapuk bercampur samar dengan bau minyak wangi mawar yang menyengat, seolah seseorang baru saja menyemprotkannya beberapa menit sebelum ia datang.
Jam tangan digital di pergelangan tangan Kirana menunjukkan pukul delapan malam. Bertekad untuk langsung berbenah agar bisa segera istirahat, ia membuka lemari pakaian kayu berkaki tinggi yang ada di sudut kamar.
Pintu lemarinya berderit nyaring, memecah kesunyian malam. Di dalam lemari itu tidak ada gantungan baju, hanya ada tumpukan kain jarik tua yang sudah berdebu.
Saat mengangkat tumpukan kain jarik terbawah untuk meminta ambalan lemari, jemari Kirana menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah buku bersampul kulit kusam, ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan.
Penasaran, ia mengambil buku itu dan membawanya ke bawah pendaran lampu bohlam lima watt yang menggantung di tengah langit-langit kamar.
Lembar-lembar kertas di dalamnya sudah menguning dan rapuh. Kirana membuka halaman pertama. Tidak ada kalimat panjang, melainkan deretan nama orang yang ditulis dengan tinta hitam tebal yang sudah memudar. Di samping setiap nama, terdapat tanggal, asal kota, dan sebuah nomor urut yang ditulis rapi.
1. Rian . Bandung (12 Maret 1996)
2. Sinta . Jakarta (04 Juni 1996)
***
3. Hendra . Yogyakarta (19 November 2008)
Tangan Kirana mulai bergetar saat terus membalik halaman demi halaman. Lembar demi lembar berisi daftar orang asing yang, setahunya dari berita-berita lama, adalah para pendaki atau relawan yang pernah dinyatakan hilang secara misterius di kawasan pegunungan ini. Fokusnya langsung terkunci pada halaman terakhir yang terisi.
99. Danang . Surabaya (14 Februari 2026)
Danang adalah guru honorer sebelum Kirana yang dikabarkan mengundurkan diri dan pulang ke kota asalnya sebulan lalu karena alasan keluarga. Namun, di bawah namanya, tertulis sebuah catatan kaki dengan tinta merah yang masih tampak pekat.
“Genap sembilan puluh sembilan jiwa. Tumbal penebusan mendekati akhir.”
Detak jantung Kirana berpacu gila-gilaan. Ia membalik halaman berikutnya, bersiap menemukan lembaran kosong. Namun, halaman nomor seratus tidak kosong.
Di sana, di bawah angka 100 yang ditulis dengan ukuran besar, sebuah nama baru telah terukir rapi dengan tinta merah segar yang bahkan aromanya masih tercium seperti besi berkarat.
Namanya sendiri.
100. Kirana . Jakarta.
Tepat saat mata Kirana membaca nama itu, lampu bohlam di atas kepalanya berkedip hebat sebelum akhirnya mati total, melemparkan seluruh isi kamar ke dalam kegelapan pekat yang mencekam.
Bersamaan dengan itu, dari arah bawah kolong tempat tidurnya, terdengar suara tarikan napas berat yang dingin, disusul oleh suara cakaran kuku yang tajam mulai menggaruk lantai kayu tempatnya berdiri.