“Sudahlah, Kang. Matikan saja kompornya. Tidak bakal ada yang datang lagi jam segini.”
Marni mengembuskan napas berat. Suaranya terdengar layu, beradu dengan gemericik air gerimis yang mulai membasahi seng pelindung warung. Tangan kanannya yang kasar mengusap peluh di dahi, meninggalkan bekas jelaga tipis di kulit pipinya yang kusam. Di hadapannya, deretan bangku kayu panjang tampak meliuk sepi. Hanya ada dua mangkuk bekas udung kopi kering dan sebuah asbak penuh puntung rokok murahan, peninggalan Pak RT dan Pak Ogah yang tadi siang menumpang bernaung dari terik matahari tanpa memesan satu tusuk sate pun.
Joko tak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kipas anyaman bambu yang sudah terkelupas di beberapa bagian. Dengan telaten, ia mengibas-ibas sisa bara api di atas panggangan panjang. Asap tipis membumbung, membawa aroma lemak kambing terpanggang yang tak lagi memikat. Hanya ada lima tusuk sate yang tersisa di atas jeruji besi itu, sate sisa tadi siang yang warnanya sudah mulai menghitam dan mongering karena terlalu sering dipanaskan ulang.
“Masih ada setengah jam sebelum Magrib, Mar,” gumam Joko pelan. Suaranya serak, sarat akan kelelahan yang tidak Cuma hinggap di otot, melainkan sudah meresap hingga ke tulang.
“Siapa tahu Pak Kadir atau orang-orang dari pabrik jalan pulang lewat sini.”
“Pak Kadir sudah pindah langganan ke warung sebelah sejak dua minggu lalu, Kang!” potong Marni, suaranya naik satu oktav. Ada kepedihan dan amarah yang berdesakan di tenggorokannya.
“Orang pabrik? Seperti mereka lebih memilih makan mi instan di pos depan daripada mampir ke sini. Bumbu kacang kita sudah basi sejak kemarin sore, Kang! Kau mau kasih makan orang dengan bumbu basi?”
Joko menghentikan gerakan tangannya. Kipas bambu itu terkulai di samping paha. Pria berusia empat puluhan itu menatap panci kaleng berisi bumbu kacang di atas meja. Lapisan minyak berwarna cokelat tua menggenang di permukaannya, tampak lengket dan tak menggugah selera. Di sampingnya, stoples kaca tempat menyimpan bawang goreng hampir kosong melompong. Hanya ada remahan halus di dasarnya.
Ia mengalihkan pandangan ke sudut lain. Daging kambing yang tergantung di gantungan besi tinggal menyisakan paha belakang yang sudah mengering. Lalat hijau hinggap di atasnya tanpa rasa takut. Tidak ada lagi stok daging di dalam lemari pendingin tua yang kompresornya sudah mati sejak sebulan lalu.
Sepi kembali menyergap. Suara jangkrik dari semak-semak di seberang jalan mulai bersahut-sahutan, menyamai deru angin sore yang membawa bau tanah basah. Warung Sate Sederhana milik Joko dan Marni berdiri tepat di tikungan jalan desa, terapit oleh pohon beringin tua di sisi kiri dan lahan kosong penuh ilalang di sisi kanan. Dahulu, tempat ini merupakan titik strategis tempat para sopir truk dan warga antardesa melepas lelah. Namun, sejak jalan lintas kabupaten yang baru dibuka enam bulan lalu, lalu lintas kendaraan di jalur tua ini mendadak mati total.
“Berapa hasil hari ini, Mar?” tanya Joko akhirnya. Suaranya terdengar amat pasrah.
Marni meraih kaleng bekas biskuit berkarat yang disembunyikan di bawah meja kasir. Ia membalikkan kaleng itu di atas meja kayu. Beberapa lembar uang kertas lusuh bernilai dua ribuan dan lima ribuan jatuh berhamburan, bersanding dengan serakan koin lima ratusan. Tangannya yang gemetar menghitung uang-uang itu satu per satu dengan ketelitian yang menyakitkan.
“Tiga puluh delapan ribu lima ratus rupiah,” ujar Marni lirik. Matanya berkaca-kaca saat menatap tumpukan uang kecil itu. “Tiga puluh delapan ribu. Bahkan tidak cukup untuk membeli lima kilo beras, Kang. Lalu bagaimana dengan utang setoran daging ke Pak Haji Somad besok pagi? Dia sudah mengancam akan menyita sepeda motor kita kalau kita tidak bayar cicilan minggu ini!”
Joko terduduk di atas bangku kayu yang berderit nyaring. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bau arang dan keringat yang menempel di tubuhnya terasa begitu menyesakkan. Pikiran Joko melayang ke belakang, mengingat masa-masa lima tahun lalu saat ia pertama kali memberanikan diri membuka warung ini dengan tabungan hasil merantau. Dulu, asap panggangan satenya tak pernah berhenti mengepul dari pagi hingga tengah malam. Daging kambing dua puluh kilogram habis setiap hari tanpa sisa. Mereka bisa merenovasi dapur, membeli televisi warna, dan menabung sedikit demi sedikit.
Roda kehidupan berputar terlalu cepat dan kejam. Kenaikan harga bahan pokok, matinya jalur jalan raya, ditambah persaingan dengan warung-warung makan modern di pusat kota kecil, pelan-pelan menjerat leher ekonomi keluarga mereka. Tabungan habis. Barang-barang berharga di dalam rumah sudah satu per satu berpindah tangan ke pegadaian. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan warung kayu yang tiangnya sudah mulai digerogoti rayap dan utang yang menumpuk di mana-mana.
“Apa kita jual saja warung ini, Kang?” bisik Marni pelan. Air matanya akhirnya menetes, melintasi pipinya yang kusam lalu jatuh di atas meja kayu.
“Kita pulang ke kampung ibu. Kita bercocok tanam saja di sana. Daripada tiap hari kita ditagih utang seperti buronan, ditatap kasihan oleh tetangga.”
“Jual warung ini?” Joko mendongak. Matanya merah, bukan hanya karena terpapar asap arang sepanjang hari, tetapi juga karena menahan rasa frustrasi yang luar biasa.
“Siapa yang mau beli tanah di tikungan mati seperti ini, Mar? Tidak ada! Lagipula, ini satu-satunya peninggalan orang tuaku. Kalau warung ini tutup, kita mau makan apa di kampung? Kita bahkan tidak punya sepetak tanah pun di sana!”
“Kalau begini terus, kita mati kelaparan di sini, Kang!” jerit Marni, tak mampu lagi menahan keesakan dadanya.
“Lihat tempat ini! Dingin, gelap, seperti kuburan! Orang-orang lewat saja malas melirik. Mereka bilang sate kita sudah tidak enak, bumbunya hambar, dagingnya keras. Padahal resepnya sama seperti dulu! Kenapa nasib kita jadi begini, Kang? Kenapa Gusti Allah tidak adil pada kita?”
“Hush! Jangan bicarakan soal Gusti Allah!”
“Ini ujian. Kita kurang sabar, kurang berusaha.”
“Kurang berusaha bagaimana lagi?!” Marni berdiri, menunjuk panggangan sate dengan jari tangannya yang gemetar.
“Kang Joko bangun jam tiga pagi ke pasar! Saya menggepuk bumbu sampai tangan saya kapalan dan terkelupas! Kita buka warung dari terbit matahari sampai malam begini! Usaha apa lagi yang kurang, Kang? Berdoa? Tiap malam kita sujud sampai jidat kita sakit, tapi mana hasilnya? Mana?!”
Joko terdiam. Ia tidak memiliki argumen lagi untuk membantah keputusasaan istrinya. Kalimat-kalimat Marni bagaikan sembilu yang mengiris-iris dadanya, sebab jauh di dalam hatinya, Joko pun merasakan hal yang sama.