


oleh Dina0505 · 9 Bab
Misteri hilangnya anak-anak membuat geger warga Desa Surup Lor. Di balik desas-desus, nama Mbah Jiwo disebut-sebut sebagai dalangnya. Vanesa, mahasiswa kedokteran yang tengah KKL, kehilangan teman kecilnya, Saras. Semua bukti menunjuk pada Mbah Jiwo. Bisakah Vanesa dan warga membongkar misteri ini sebelum anak lain menjadi korban? Ataukah yang mereka hadapi bukan sekadar mitos?
"Van, kamu dapat lokasi PKL di mana?" tanya Jesi, suaranya terdengar antusias sekaligus penasaran saat menatap surat tugas yang baru saja ia buka.
Vanesa menggeser letak kacamatanya, jemarinya bergerak lincah membuka amplop putih di tangannya. "Barusan aku baca, di Desa Surup Lor. Aku tidak pernah dengar nama lokasi ini. Kamu tahu nggak, Jes?"
Jesi terdiam sejenak, alisnya bertaut. "Wah, kalau gitu kita samaan. Aku juga dapat di tempat yang sama. Tunggu, aku kayaknya pernah dengar nama itu. Konon kabarnya tempat itu ada di balik lereng curam Gunung Lawu. Terpencil banget, aksesnya susah."
"Eh, guys! Kalian dapat di Desa Surup Lor?" celetuk Devi yang tiba-tiba muncul dari balik rak buku perpustakaan, membuat keduanya tersentak. Wajahnya tampak serius, jauh dari kesan bercanda. "Dengar-dengar, desa itu punya aturan yang ... tidak masuk akal. Tempat keramat."
Vanesa tertawa kecil, meski terdengar sedikit dipaksakan. "Dev, jangan mulai deh. Ini kali pertama aku ditempatkan di satu desa untuk praktik. Jangan bikin aku takut."
Devi melangkah mendekat, suaranya merendah hingga hampir berbisik. "Tapi beneran, Van. Di desa itu, setiap masuk waktu magrib, anak-anak dilarang keras keluar rumah. Penduduk percaya ada sosok nenek tua yang akan menculik anak-anak dan ... memakannya. Konon, dia tidak butuh pintu untuk masuk ke rumah yang terkunci."
Vanesa hampir saja terbahak, namun tertahan oleh tatapan mata Devi yang tajam. Sebagai mahasiswa kedokteran yang terbiasa dengan logika dan anatomi tubuh, Vanesa merasa narasi itu sangat konyol.
"Devi, ya ampun. Hari gini masih percaya takhayul? Kita ini hidup di zaman modern, bukan di abad pertengahan. Itu pasti cuma taktik orang tua zaman dulu biar anak-anaknya nggak keluyuran malam-malam, kan?" Vanesa melambaikan tangan, mencoba mengusir kecemasan yang mulai merayap di dadanya.
"Kamu pikir itu cuma mitos untuk menakuti anak kecil?" tantang Devi. "Kejadian itu nyata, Van. Ada jejak-jejak yang ditinggalkan, bekas cakaran di pintu-pintu kayu yang terkunci. Kamu akan buktikan sendiri ucapan aku!"
"Sudah, ya, Dev. Aku nggak mau PKL kali ini jadi mengerikan hanya karena cerita karanganmu. Semoga saja apa yang kalian ceritakan itu cuma dongeng pengantar tidur," pungkas Vanesa, meski ia tahu tangannya kini sedikit gemetar saat merapikan berkas-berkasnya.
---
Perjalanan selama 16 jam terasa seperti menyiksa tulang belulang Vanesa. Bus yang ditumpanginya berhenti tepat di batas desa ketika matahari sudah benar-benar ditelan kegelapan. Udara di lereng barat Gunung Lawu itu menusuk hingga ke sumsum, membawa aroma tanah basah dan bau kemenyan yang samar.
Vanesa menatap jam tangannya. Tepat pukul tujuh malam.
Tiba-tiba, suara azan magrib berkumandang dari masjid tua yang siluetnya tampak mengerikan di kejauhan. Keheningan desa yang mencekam itu pecah oleh satu fenomena ganjil. Begitu suara azan terakhir terdengar, seluruh lampu rumah-rumah kayu di sana menyala serempak. Seperti ada saklar raksasa yang ditekan oleh satu tangan tak terlihat.
Pintu-pintu dibanting menutup, palang kayu dikunci dengan suara 'klotak' yang nyaring. Anak-anak yang tadi terlihat bermain di pelataran, diseret masuk oleh orang tua mereka dengan tatapan mata yang penuh teror.
“Wis, mlebu! Magrib!” teriak seorang ibu yang menarik lengan anak perempuannya dengan kasar, matanya melirik liar ke arah hutan pinus yang gelap gulita.
Vanesa berdiri mematung di pinggir jalan desa yang sepi. Ia merasa seperti diawasi oleh ribuan mata dari balik celah jendela. Bulu kuduknya berdiri. 'Jangan-jangan Devi benar?' pikirnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan tua yang dingin dan kurus menepuk pundaknya dengan keras dari belakang.
"Tolong, jangan culik saya! Saya cuma mau belajar di sini!" teriak Vanesa spontan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menutup telinganya, tubuhnya bergetar hebat. Cerita Devi tentang nenek pemangsa anak-anak seolah melompat dari imajinasi ke kenyataan di depannya.
"Maaf, Dek. Adik ini Vanesa bukan? Saya dengar ada mahasiswa yang akan PKL di sini."
Suara itu tenang, dalam, dan terdengar manusiawi. Vanesa membuka matanya perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria berusia empat puluhan dengan kemeja lusuh dan lampu minyak di tangan.
"Eh, i-iya Pak. Kenalkan saya Vanesa Anggrainia." Suaranya serak karena ketakutan. "Bapak siapa?"
"Saya Rahmat Raharjo, kepala desa di sini. Maaf kalau kehadiran kami membuatmu takut. Desa ini memang punya cara sendiri untuk melindungi diri," ujar Rahmat dingin.
Vanesa diantar menuju sebuah rumah kayu besar milik Mbak Narsih. Rumah itu tampak kokoh, di setiap sudut kusen pintunya, Vanesa melihat goresan-goresan panjang yang tampak seperti bekas kuku manusia yang tajam.
"Perkenalkan ini Mbak Narsih," ujar Rahmat.
Narsih menyambut Vanesa dengan senyum yang terlalu lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Masuklah, Nak. Jangan banyak tanya tentang apa yang kamu lihat di luar sana."
Vanesa merasa sedikit tenang saat berada di dalam, hingga ia melihat ke arah kamar di sudut ruang tengah. Pintu kamar itu sedikit terbuka.
Di dalamnya, duduk seorang nenek tua dengan rambut putih yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Ia sedang menyisir rambutnya, tapi bukan sisir yang ia pegang, melainkan tulang hewan yang sudah dibersihkan.
Nenek itu menoleh ke arah Vanesa, memberikan senyum yang begitu misterius hingga membuat Vanesa merasa jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Jangan takut, itu Mbah Ratmi, neneknya Saras," bisik Narsih seolah bisa membaca pikiran Vanesa. "Beliau sudah pikun dan sedikit agresif. Makanya saya lebih sering mengurung beliau. Takut nanti keluar rumah saat magrib dan mencelakai orang lain."
Vanesa mengangguk kaku, matanya tak bisa lepas dari jemari Mbah Ratmi yang sangat panjang dan kuku-kukunya yang hitam, seolah baru saja menggali tanah kuburan.
Malam itu, di Desa Surup Lor, Vanesa menyadari bahwa logikanya sebagai mahasiswa kedokteran tidak akan cukup untuk menjelaskan apa yang akan ia hadapi dalam beberapa minggu ke depan.
Ia kini sadar, setiap detak jam dinding di rumah Narsih terdengar seperti hitung mundur menuju sesuatu yang mengerikan.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel