Setiap manusia punya akal, tapi tidak semua orang menggunakannya untuk berpikir. Itulah yang membedakannya dengan primata lain, yang membuat mereka berada di puncak rantai makanan.
Corona tidak pernah menjadi virus terganas di muka bumi. Manusialah yang selalu menjadi ancaman terbesar planet ini.
Kau pikir, setelah aku menyadari informasi di atas, aku akan menganggap diriku berbeda dari mereka? Tidak sama sekali. Sebenarnya, semakin kau tahu banyak, semakin kau merasa tidak tahu apa-apa.
Semakin kau merasa kecil.
Semakin kau merasa tidak berguna.
Semakin kau menganggap semua yang kau raih hanyalah sekumpulan artefak yang kau kumpulkan hanya untuk merasa diterima.
Manusia akan selalu membutuhkan pujian, disadari atau tidak. Kalau kau tidak pernah merasakan desakan untuk itu, itu artinya kau belum bertemu dengan tujuan tertentu. Atau seseorang.
Itulah yang membuatku tidak ingin terikat pada siapa pun. Dengan mengatur jarak yang cukup, aku tidak akan terluka. Aku tidak akan pernah berada di situasi terpaksa menyenangkan mereka. Kau tahu, aktivitas sosial bagiku selalu menguras energi.
Mengapa mereka harus mengerahkan energi hanya untuk berpura-pura?
Ayahku sering membawaku ke sebuah pesta. Sebagai putri seorang pengusaha, sejak kecil aku sudah diingatkan soal cara mengatur wajah dan mengendalikan emosi agar tidak terlihat oleh lawan bicara. Semakin sedikit yang kau perlihatkan, semakin sukar kau ditaklukkan.
Kelemahanmu hanya untuk disimpan sendiri. Bahkan aku tidak diperbolehkan menceritakan titik lemahku pada kedua orang tuaku sejak usiaku sudah menginjak sepuluh tahun. Atau, lebih tepatnya—seperti kata Ibu—kehidupan dewasa yang monoton dan penuh ranjau itu dimulai di hari pertama aku menstruasi.
Namaku Binar. Atau itulah yang kedua orang tuaku sukai. Menurut mereka, nama Aru terlalu kekanak-kanakan untukku. Binar jauh lebih memancarkan keanggunan, kelembutan, tampak seperti seorang wanita yang diharapkan menjadi sosok yang bisa menaklukkan dunia hanya dengan tersenyum ramah.
Huh. Bahkan Gaharu—kucing peliharaanku—tidak mau menghampiriku kalau aku memanggilnya dengan suara ‘dewasa’ yang kulatih. Tampaknya hewan lebih matang secara emosional daripada makhluk yang sudah mengklaim dirinya sebagai primata terhebat di planet ini. Mereka menerimamu apa adanya. Tanpa topeng.
Aku mendongak menatap bangunan berlantai delapan di depanku. Seluruh bangunan itu seolah diukir dari batuan kaca di tengah-tengah hutan pinus. Aku tidak bercanda. Om Rha—sopirku—harus melewati hutan selama lima belas menit dari gerbang untuk mencapai gedung utama. Yayasan Bestari tampaknya terlalu berlebihan dalam urusan pengendalian privasi.
“Hari ini kelasnya sampai malam atau sore, Non?” tanya Om Rha, menatapku dari kaca depan.
Aku meringis. “Belum tahu, Om.”
Apa kegugupanku terlihat? Mungkin.
Om Rha langsung memutar tubuhnya, menawarkan senyuman hangatnya yang bisa membuat para wanita pengurus rumahku membeku dan terpesona. Om Rha adalah gambaran pria gagah yang tahu cara menggunakan tubuhnya yang dipahat sempurna. Aku masih bertanya-tanya apa yang membuat pria tampan ini memutuskan tidak menikah di usianya, yang kalau aku tidak salah hitung, seharusnya akan mencapai tiga puluh enam tahun beberapa bulan lagi.
“Kau tidak berniat membolos, kan? Aru?”
Inilah yang aku sukai dari Om Rha. Kalau kami hanya berdua, ia akan memanggilku dengan nama panggilan yang kusukai.
Aku tidak menjawab, dan hanya mendengkus.
“Hm. Apa aku harus membawamu ke tempat lain?”
Jujur, itu ide yang bagus. Aku tergoda untuk merangkak ke tempat tidurku, mendekam di bawah selimut dan membaca novel sampai subuh keesokan harinya. Jauh lebih menyenangkan daripada harus berhadapan dengan monster berwujud gedung megah yang membutakan mata dengan para pasukan mini berwujud mahasiswa.
“Pergilah.” Om Rha mengedikkan kepalanya ke pintu. “Kau memang tidak suka kalau aku membukakan pintu untukmu. Apa mungkin hari ini kau ingin aku melakukannya?”
Aku menggeleng lemah sebelum membuang napas. Panjang. “Tidak perlu, Om. Sampai nanti.” Dengan berat hati, aku pun melangkah keluar mobil.
Setelah mengangguk dan membalas senyumanku, Om Rha menutup jendelanya dan pergi.
Dan di sinilah aku berdiri, memulai sembilan belas tahun pertamaku. Di depan sebuah universitas bergengsi yang kemungkinan hanya bisa dimasuki satu persen bocah-bocah culun berprestasi yang memiliki orang tua dengan kekayaan fantastis. Atau mungkin ada yang tidak culun, karena pastinya ada beberapa jalan masuk lain yang bisa diandalkan. Dan itu artinya, harus dengan lebih banyak uang. Atau keberuntungan, karena kepala yayasan, sekaligus rektor kampus ini tidak mudah diprediksi.
Kejutan, rektor itu adalah omku sendiri.
Universitas Bestari memiliki lahan seluas 700 hektar, lengkap dengan berbagai macam fasilitas memadai sehingga kau tidak perlu khawatir kalau berniat membolos dan tidak ingin susah payah melewati hutan belantara—secara harfiah.
Di depan gedung, kau akan disambut taman yang membentang dengan arsitektur Romawi kuno. Atau Yunani. Pengetahuanku soal sejarah sama buruknya dengan kemampuanku bersosialisasi.
Sebuah air mancur megah berdiameter sekitar tiga meter berada tepat di tengah taman, tegak lurus dengan pintu masuk. Cincin di atasnya lebih kecil, membentuk pola segitiga ketika airnya memancar keluar. Siapa pun yang mendesain tempat ini, pasti bukan orang suruhan Om Karsa.
Begitu aku memasuki lobi, aku harus menghembuskan napas panjang. Aku mengangguk kikuk pada seorang penjaga di dekat pintu, hanya karena ia tersenyum lebih dulu. Meskipun ada puluhan mahasiswa berlalu-lalang, sepertinya hanya penjaga itu yang benar-benar menawarkan senyuman padaku.
Sial. Hari pertama saja sudah membuatku kehilangan semangat untuk bertempur. Masih ada tiga setengah tahun lagi yang harus kutempuh sebelum akhirnya keluar dari tempat ini dan menyendiri di tempat kerjaku selama mungkin.
Itu kalau aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan pekerjanya bekerja dari rumah. Kalau aku ditakdirkan untuk mewarisi perusahaan Ayah—yang sepertinya tidak bisa diganggu gugat karena aku adalah anak satu-satunya, maka bayangan menggoda tinggal di dalam kepompong tanpa terusik aktivitas manusia yang menjemukan hanya akan menjadi khayalan tak berguna.
Aku meraih ponselku dari tas dan mencoba membaca ulang daftar kelas yang akan kuhadiri hari ini. Dari yang kutahu, kebanyakan mahasiswa di sini adalah lulusan SMA Bestari. Berbeda denganku yang lulus dari sekolah lain karena, ya, baru tiga bulan keluargaku pindah ke kota ini. Jadi, maafkan aku kalau aku sama sekali tidak tahu-menahu soal keberadaan kelas yang seharusnya kuhadiri satu jam lagi.
Om Karsa tentunya sudah memberiku denah yang mudah dibaca seminggu sebelum perkuliahan dimulai. Tapi luas kampus ini tidak masuk akal, dan aku buta arah. Aku bersyukur Om Rha menyarankanku untuk pergi satu jam lebih awal.
“Sial,” desisku, sambil dengan putus asa memperbesar dan menggeser-geser ulang gambar denah di layar ponsel.
Seharusnya aku harus pergi ke ruang kelas E, di gedung A, dengan mata kuliah Pengantar Akuntansi. Dan aku berada di lobi. Gedung A seharusnya berada di ....
Sebelah barat.
Refleks aku menoleh ke lorong memanjang di depanku ketika aplikasi kompas yang kuunduh mengarah ke sana.
Aku menggeleng dalam hati. Rasanya seperti hendak masuk ke usus naga.
Setelah menaiki beberapa tangga, aku tidak bisa berhenti terperangah dengan kemegahan kampus Bestari. Lantainya terbuat dari marmer hitam dengan garis-garis putih. Dindingnya nyaris delapan puluh persen terbuat dari kaca. Aku bisa melihat mahasiswa lain beraktivitas di taman belakang. Ada beberapa lapangan yang luas di sana. Sepak bola, basket, dan—apa itu lapangan untuk voli? Atau bulu tangkis?
Aku tidak terlalu memerhatikan langkahku ketika mengagumi berbagai macam lapangan itu sampai akhirnya tubuhku menabrak sesuatu.
Atau seseorang. Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa terasa begitu keras dan padat seperti batu?
Ketika aku terkesiap dan nyaris terjungkal, sebuah tangan menarikku dengan cepat, membuat wajahku kembali terantuk benda itu.
Ralat. Bukan benda. Itu dada seorang pria.
Aku pun mendongak.
Kesalahan fatal. Begitu aku menemukan matanya yang gelap dan dalam, aku tidak bisa menemukan hal lain yang bisa kuperhatikan.
“Perhatikan langkahmu.”
Suaranya yang berat membuatku terpaku.
Kenapa aku bisa merasakan bahaya hanya dari suaranya?