


oleh Jagat Danumaya · 89 Bab
Suamiku hanya memberi uang belanja sepuluh ribu setiap hari. Aku harus memutar otak untuk bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangga dengan uang seminimal mungkin. Sayangnya, uang segitu tidak pernah cukup. Suatu hari temanku main, dari dia aku mendapatkan cara untuk mencari tambahan uang belanja tanpa harus keluar rumah dan tanpa kerja banting tulang. Menjual goyangan. Tapi semua tidak berjalan sesuai rencana, karena suamiku memergokiku ketika tengah live dengan pakaian dinas malam. Aku harus bagaimana? Berhenti live dengan resiko diberi uang belanja sepuluh ribu sehari, atau tetap lanjut live goyangan?
"Aduh, mana gak pegang uang lagi." Aku meremas perut yang melilit, mules dan rasa sakit lain yang membuat tubuhku lemas.
Mas Agung, suamiku hanya memberi sepuluh ribu hari ini, jadi kalau uang itu untuk membeli pembalut, pasti aku tidak bisa masak.
Di saat otak tidak bisa berpikir lebih panjang lagi, sebuah nama teringat. Linda. Dengan cepat aku mencari kontak satu-satunya teman yang masih berhubungan sampai sekarang tersebut. Setelah ketemu, aku menelfonnya.
"Halo ... ah ... ada apa, sih? Ah ...."
Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Takut salah sambung. Tapi tidak, itu memang nomor Linda. Kembali lagi aku mendekatkan ponsel ke telinga.
"Lin, kamu lagi ngapain? Kok suara kamu ...."
"La ... gi ... enak. Apaan sih?"
"Ya udah matiin dulu aja." Aku mengakhiri panggilan tersebut. Perasaan Linda belum punya suami, jadi dengan siapa dia melakukannya? Oh mungkin pacarnya. Gaya pacaran Linda parah ternyata.
Ponsel kuletakkan di meja, kemudian mengambil uang selembar yang ditinggalkan Mas Agung tadi pagi. Terlebih dulu kutarik napas panjang. Semoga nanti Linda bisa memberiku pinjaman, agar bisa membeli pembalut.
Uang itu kubawa ke tukang sayur yang sudah datang beberapa menit lalu. Kalau biasanya berhenti di depan rumahku, kali ini si tukang sayur mangkal di seberang warung.
"Eh Mbak Asih yang cantik."
Aku tersenyum mendengar sapaan biasa dari duda muda tersebut.
"Mau masak apa hari ini, Mbak Cantik?"
"Sawi aja, Mang. Sama tempe yang kecil satu aja, ya."
"Kenapa suka yang kecil-kecil sih, Mbak. Kan kalau yang besar lebih mantap."
"Huuuu." Ibu-ibu yang sedang berbelanja menyirami tukang sayur genit itu.
Aku hanya tertawa kecil. Bagiku sudah biasa dengan candaannya, jadi tidak terlalu kaget.
"Kecil yang penting awet, Mang. Daripada besar tapi cepat abis. Tempenya ini loh." Aku mengkoreksi biar tidak jadi merembet ke mana-mana.
"Lima ribu aja, Mbak." Satu kantong diulurkan kepadaku.
Uang sepuluh ribu kuberikan. Untung masih ada sisa bumbu dapur, jadi masih bisa masak. Eh, tapi minyak goreng habis, masa goreng tempe pakai air, kan gak mungkin. Ah, gak bakal bisa beli pembalut ini.
Sisa uang lima ribu kubelikan minyak goreng. Setelah selesai, aku kembali pulang ke rumah dan siap masak. Meski tidak nyaman di bawah sana karena basah, tapi harus tetap kutahan kan?
"Misi, ada orang di dalam gak?" Terdengar suara dari depan pintu.
Dari dapur, aku berlari kecil saat tahu siapa orang yang datang. "Lin."
"Kenapa kamu, Sih? Mau curhat? Sorry, tapi aku baru, you know lah morning cihuy"
"Gemblung."
Linda langsung duduk di sofa merah yang Mas Agung beli sebulan setelah kami pindah ke rumah ini. Dia meletakkan kantong plastik di meja. Biasanya memang Linda membawa oleh-oleh meski hanya kacang telur.
"Lin. Kamu pegang uang lebih gak?" tanyaku hati-hati.
"Ada. Butuh berapa?" tanyanya enteng.
Aku yang tadinya takut kalau Linda marah, kini menjadi lega. "Dua puluh ribu ada?"
"Astaga. Cuma dua puluh ribu kamu ganggu aku enak-enak? Sialan kamu, Sih." Linda merogoh tasnya, kemudian mengambil dompet.
Sekilas kulirik isi di dalamnya. Banyak merah-merah woy.
"Nih. Kamu pegang!" Lima lembar seratus ribuan ditaruh di meja. Lain kali langsung bilang aja, gak usah gak enakan. Kayak sama siapa aja."
Dia enteng bilang gitu, tapi gimana mau gak canggung, kalau utangku pada Linda sudah banyak banget. Apa lagi setiap bulan pasti ada aja yang kupinjam darinya.
Gini amat hidup gak punya uang.
"Mau beli apa?" tanya Linda.
"Pembalut. Aku dapat hari ini, tapi gak punya uang buat beli. Mas Agung cuma ngasih sepuluh ribu."
"Lah, bego. Minta lebih lah, bilang kalau perlu buat beli pembalut."
"Aku gak enak, Lin. Takut dia marah."
Linda mengelus dadanya. "Kok ada orang yang sesabar kamu, Sih."
"Bukan sabar, Lin. Hanya lebih menerima keadaan."
Linda mencebik. "Itu mah namanya menciptakan neraka dunia, Sih. Kita gak tahu besok setelah mati masuk neraka atau surga, kalau neraka minimal di dunia udah ngerasain surga."
Aku tekekeh. "Orang kek kamu percaya dengan surga neraka juga? Kirain enggak."
"Eh jangan salah. Jelek-jelek gini masih percaya Tuhan kali. Cuma emang nakal aja. Nih aku bawa pembalut di tas, buat jaga-jaga. Sana pakai dulu! Jijik banget bayangin dari tadi belum pakai."
Aku mengucapkan terima kasih, kemudian ke kamar mengambil celana yang baru dan memakai pembalut dadi Linda. Memang bestie sejati Linda mah. Setelah selesai, aku kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman tanpa cemilan, karena emang tidak punya.
"Minum, Lin. Aku penasaran, kamu bisa punya uang banyak itu dari mana sih? Kayaknya gak pernah lihat kamu kerja."
"Kerja gak harus banting tulang, Sih. Itu orang jadul yang masih menganut sistem begitu. Sekarang kerja dari rumah juga bisa."
"Hah? Kerja apa? Reseller kayak aku? Tapi hasilnya gak sebanyak kamu."
"Enggak. Jualan jasa aku."
"Jasa apa? Aku mau dong diajarin, biar bisa dapat uang banyak. Pusing juga kalau setiap hari mutar otak dengan uang sepuluh ribu."
Linda melihat tubuhku dari atas sampai bawah. "Yakin mau kerja kayak aku?"
Tentu saja aku mau. Dengan semangat, aku mengangguk. Linda mulai menjelaskan apa saja kerjaannya. Dan menurutku itu tidak sulit. Untuk pertama, aku akan ikut Linda kerja nanti siang.
Setelah yakin kalau aku akan kerja yang sama dengan Linda, dia pulang untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan.
Iseng-iseng aku membuka sosial media sambil menunggu Linda kembali. Nama akun yang tadi disebutkan Linda kubuka. Begitu melihat vidio yang ada di sana, mataku ter
belalak.
Jadi kerjaan yang dimaksud Linda itu ....

Jagat Danumaya
8 Pengikut · 2 Novel