Pagi masih terlalu dini untuk disebut pagi.
Di luar jendela, langit masih diselimuti gelap. Lampu-lampu rumah tetangga sebagian besar masih padam. Belum terdengar deru kendaraan ataupun suara orang-orang yang memulai aktivitas. Hanya desir angin yang sesekali menyelinap melalui celah ventilasi, menemani sunyinya rumah kecil kami.
Aku perlahan membuka mata.
Kelopak mataku masih terasa berat, tetapi tubuhku seolah telah memiliki jamnya sendiri. Bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama membuatku terbiasa terbangun sebelum alarm berbunyi, bahkan sebelum ayam-ayam mulai berkokok.
Aku memiringkan tubuh ke samping.
Rahman masih tertidur pulas di sisiku.
Napasnya terdengar pelan dan teratur. Wajahnya tampak begitu damai, seolah segala beban yang setiap hari ia pikul ikut terlelap bersamanya. Beberapa helai rambut jatuh menutupi dahinya. Garis-garis halus yang biasanya muncul ketika ia sedang memikirkan pekerjaan kini menghilang, membuat wajahnya terlihat jauh lebih tenang.
Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirku.
Sudah bertahun-tahun kami menjalani kehidupan bersama.
Hidup kami memang sederhana. Tidak pernah bergelimang harta, tetapi juga tidak pernah kehilangan alasan untuk bersyukur. Rahman selalu berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam demi memastikan dapur kami tetap mengepul. Ia jarang mengeluh, meski aku tahu rasa lelah sering kali ia sembunyikan di balik senyumnya.
Melihat wajahnya seperti ini selalu membuat hatiku ikut tenang.
Entah mengapa, setiap kali memandangnya, aku merasa kembali memiliki kekuatan untuk menjalani hari. Selama Rahman masih berada di sisiku, rasanya segala kesulitan selalu memiliki jalan untuk dilewati bersama.
Aku mengembuskan napas perlahan.
"Sayang, terima kasih karena selalu ada di sisiku," bisikku lirih.
Pelan-pelan kusingkirkan selimut agar tidak mengganggu tidurnya.
Telapak kakiku menyentuh lantai keramik yang dingin. Seketika rasa sejuk menjalar hingga ke tubuhku, membuatku sedikit mengerutkan kening sebelum akhirnya terbiasa.
Aku berdiri, lalu mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk meregangkan badan. Sendi-sendi yang sempat terasa kaku perlahan mengendur. Bahuku terasa lebih ringan setelah kuputar perlahan ke belakang, disusul leher yang kugerakkan ke kanan dan ke kiri.
Hari baru kembali dimulai.
Sebelum melangkah keluar kamar, aku menoleh sekali lagi. Rahman masih tertidur dengan posisi yang sama.
Aku tersenyum kecil. Semoga tidurnya cukup untuk mengumpulkan tenaga menghadapi hari yang mungkin kembali panjang.
Dengan gerakan lambat, kubuka pintu kamar hingga engselnya nyaris tak bersuara. Setelah itu aku melangkah keluar, menyusuri lorong rumah yang masih diselimuti kegelapan.
Langkahku berhenti di depan kamar anak-anak.
Tanganku meraih gagang pintu. Kubuka perlahan, hanya cukup lebar untuk mengintip ke dalam. Kamar itu masih dipenuhi keheningan.
Monika tidur memeluk guling kesayangannya, sementara Nio meringkuk di bawah selimut dengan posisi yang entah bagaimana selalu berubah setiap malam. Sebagian selimutnya bahkan hampir terjatuh ke lantai.
Aku berjalan mendekat tanpa mengeluarkan suara.
Pelan-pelan kutarik kembali selimut yang melorot hingga menutupi tubuh Nio.
Anak itu hanya bergumam kecil sambil membalikkan badan. Aku tersenyum geli.
Pandanganku kemudian beralih kepada Monika.
Wajah putriku tampak begitu damai. Dadanya naik turun perlahan mengikuti irama napasnya. Melihat mereka berdua tertidur seperti ini selalu membuat segala rasa lelah yang kupendam seolah menguap begitu saja.
Mereka adalah alasan terbesar mengapa aku selalu ingin bangun lebih awal dan memastikan hari mereka dimulai dengan baik.
Aku memandangi mereka beberapa saat lagi sebelum melangkah mundur.
Pintu kamar kututup kembali dengan hati-hati hingga terdengar bunyi klik yang nyaris tak terdengar.
Rumah kembali tenggelam dalam kesunyian.
Aku berjalan menuju kamar mandi.
Handuk yang sudah kusiapkan sejak semalam masih tergantung rapi di balik pintu. Kuambil handuk itu, lalu melangkah masuk ke dalam.
Tak lama kemudian, suara gemericik air mulai memecah keheningan pagi. Air yang mengalir menyapu sisa kantuk dan rasa penat, seolah turut membersihkan hati serta pikiranku untuk menyambut hari baru.
Aku mengambil handuk yang telah kugunakan, lalu menggantungkannya kembali di tempat semula. Tubuhku kini terasa jauh lebih segar. Setelah mengenakan pakaian muslimah sederhana, aku merapikan kerudung yang membingkai wajahku di depan cermin. Kulirik sekilas bayanganku sendiri, lalu mengembuskan napas pelan.
Jam segini masih terlalu pagi.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi menuju ruang tengah. Rumah masih diselimuti keheningan. Dalam suasana yang tenang itu, kutunaikan salat Subuh seperti pagi-pagi sebelumnya. Bagiku, ibadah ini bukan sekadar rutinitas yang mengawali hari, tetapi juga kewajiban yang selalu menghadirkan ketenangan di hati. Entah mengapa, setelah menyelesaikannya, pikiranku terasa lebih ringan dan langkahku terasa lebih mantap untuk menghadapi apa pun yang menunggu hari ini.
Aku melipat mukena dengan rapi, lalu meletakkannya kembali di tempat semula.
Saatnya menyiapkan sarapan.
Aku berjalan menuju dapur sambil menyalakan lampu yang menerangi ruangan sederhana itu. Rak piring tersusun rapi, sementara beberapa bahan makanan sudah kusiapkan sejak semalam agar pagi ini tidak perlu terburu-buru.
Pagi ini aku memutuskan membuat nasi goreng spesial. Ya, sebenarnya cuma nasi goreng yang ditambahi sedikit bumbu perasa. Tetap saja kuberi nama nasi goreng spesial.
Aku mengambil beberapa siung bawang merah dan bawang putih dari keranjang, lalu meletakkannya di atas talenan. Pisau kecil di tanganku mulai bekerja.
Suara irisan bawang memecah sunyi pagi. Aroma khas bawang yang baru dipotong perlahan memenuhi udara, membuatku tanpa sadar tersenyum kecil. Setelah itu, kuiris daun bawang tipis-tipis, lalu kusiapkan telur, nasi putih yang sudah dingin, serta beberapa bumbu pelengkap.
Wajan kuletakkan di atas kompor.
Api biru menyala pelan.
Kutuang sedikit minyak goreng, menunggu hingga permukaannya mulai berkilau.
Begitu bawang merah dan bawang putih masuk ke dalam minyak panas...
Suara desisan langsung memenuhi dapur.
Aroma harum bawang yang ditumis perlahan menyebar, berpadu dengan hangatnya minyak yang mendidih. Aku mengaduknya perlahan menggunakan spatula kayu hingga warnanya berubah menjadi keemasan.
"Harumnya," gumamku pelan.
Kumasukkan telur yang segera pecah dan bercampur dengan tumisan bawang. Setelah telur mulai matang, nasi putih menyusul masuk ke dalam wajan.
Kecap manis kutuangkan secukupnya.
Warnanya perlahan berubah menjadi kecokelatan.
Aroma gurih bercampur manis langsung memenuhi dapur. Uap hangat mengepul ke udara, menempel di kaca jendela yang masih dingin karena udara pagi.
Tanganku terus mengaduk nasi goreng agar semua bumbu tercampur rata.
Masakannya terlihat sederhana.Namun bagiku, justru kesederhanaan seperti inilah yang menghadirkan kebahagiaan.
Aku memang bukan koki hebat. Masakanku juga tidak pernah semewah makanan di restoran. Akan tetapi, melihat Rahman menghabiskan sarapan sebelum berangkat bekerja atau melihat Monika dan Nio berebut lauk selalu menghadirkan rasa puas yang sulit kujelaskan.
Mungkin beginilah caraku mencintai mereka.
Bukan dengan hadiah yang mahal, melainkan lewat sepiring makanan hangat yang kusiapkan setiap pagi.
Aku kembali mengaduk nasi goreng yang mulai matang.
Aroma bawang, kecap, dan nasi yang tergoreng sempurna kini semakin kuat, perlahan mengalir keluar dari dapur dan memenuhi setiap sudut rumah.
Aku tersenyum kecil.
Sepertinya tidak lama lagi, aroma ini akan membangunkan penghuni rumah yang masih terlelap.