"Yakin cuma dua juta sebulan? Fasilitas begini?"
Aris menatap tidak percaya ke arah pria kurus di depannya yang mengenakan kemeja safari warna kusam. Di atas meja kayu yang sudah mengelupas peliturnya, tergeletak selembar brosur fotokopian yang memperlihatkan gedung tinggi dengan nama mentereng. Apartemen Grand Kirana.
Pria di hadapan Aris, Pak Broto, hanya mendeham singkat sambil merapikan tumpukan kertas yang berantakan. Matanya tidak sekali pun menatap langsung ke arah Aris.
"Dua juta itu sudah termasuk iuran pengelolaan lingkungan dan air. Listrik tanggung sendiri sesuai pemakaian. Murah karena pemilik unit sebelumnya pindah mendadak ke luar negeri. Dia butuh orang yang bisa segera mengisi supaya unitnya tidak kosong terlalu lama," ujar Pak Broto dengan nada suara yang monoton, seolah-olah ia sudah menghafal kalimat itu di luar kepala.
Aris membasahi bibirnya yang kering. Angka itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Di kota yang semakin mencekik ini, uang sisa tabungannya setelah diberhentikan dari perusahaan percetakan tiga bulan lalu tidak akan bertahan lama.
Ia sudah hampir diusir dari kontrakan lamanya di pinggiran rel kereta api karena menunggak tiga bulan. Tawaran ini bagaikan oase di tengah padang pasir, meskipun akal sehatnya sempat membisikkan kecurigaan.
"Ini legal, kan, Pak? Maksud saya, tidak ada sengketa atau masalah surat-surat?" tanya Aris lagi, mencoba memastikan.
"Legalitas terjamin. Ini kunci dan kartu aksesnya sudah siap. Kalau setuju, tinggal tanda tangan di sini, bayar uang muka, dan Mas Aris bisa langsung pindah sore ini juga." Pak Broto menyodorkan selembar map kertas dengan gerakan yang terkesan buru-buru. "Bagaimana? Saya ada urusan lain setelah ini."
Aris menatap sisa saldo di aplikasi perbankan pada ponselnya. Jika ia mengambil unit ini, ia masih punya sedikit sisa untuk makan selama sebulan sembari mencari pekerjaan baru.
Tanpa pikir panjang lagi, ia meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangan. Ia tidak punya pilihan lain. Jalanan atau unit murah, jawabannya sudah jelas.
Apartemen Grand Kirana berdiri angkuh di antara kepungan gedung perkantoran tua di pusat kota. Dindingnya yang berwarna abu-abu terlihat kusam di beberapa sisi, dengan noda bekas rembesan air hujan yang menghitam menyerupai urat nadi. Aris berdiri di lobi yang sepi, menjinjing dua tas besar berisi pakaian dan satu kardus perlengkapan dapur.
Hawa dingin langsung menyergap saat ia melangkah masuk. Bukan dingin yang menyegarkan dari mesin pendingin ruangan, melainkan hawa sejuk yang lembap dan berbau samar seperti kapur barus lama. Ia menuju lift, menempelkan kartu aksesnya, dan menekan angka 4.
Lantai empat.
Saat pintu lift berdenting terbuka, Aris disambut oleh koridor panjang dengan pencahayaan yang agak temaram. Lantainya tertutup karpet merah marun yang sudah menipis di beberapa bagian. Hening. Begitu hening hingga suara derap langkah kakinya sendiri terdengar menggema tidak wajar. Aris menelusuri nomor-nomor di pintu kayu jati yang kokoh itu. 401, 402, 403.
Tepat di ujung koridor, ia menemukan pintu dengan angka logam yang sedikit miring. 404.
Aris memasukkan kunci ke lubangnya. Sedikit keras, seolah-olah mekanisme di dalamnya sudah berkarat karena jarang diputar. Dengan satu sentakan kuat, pintu itu akhirnya terbuka, mengeluarkan suara decitan panjang yang membelah kesunyian koridor.
Unit itu lebih luas dari bayangannya. Ada ruang tengah kecil, satu kamar tidur, dan dapur minimalis yang menyatu dengan area cuci.
Furniturnya masih lengkap, meski semuanya tertutup lapisan debu tipis. Aris meletakkan barang-barangnya di lantai ruang tamu, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gedung parkir di seberangnya.
"Lumayan," gumamnya pelan.
Ia mencoba menyemangati diri sendiri. Setidaknya, ia tidak perlu lagi mendengar suara kereta api yang memekakkan telinga setiap lima belas menit sekali.
Sore itu dihabiskan Aris dengan bersih-bersih. Ia menyeka debu, mengepel lantai, dan memasang sprei pada kasur yang terasa agak keras. Saat sedang membersihkan lemari di kamar tidur, Aris sempat berhenti sejenak.
Ia merasa seperti sedang diperhatikan. Ia menoleh ke belakang, menatap pintu kamar yang terbuka setengah. Tidak ada siapa-siapa. Namun, perasaan geli di tengkuknya tidak mau hilang.
Ia mencoba mengabaikannya. "Mungkin cuma karena tempat baru," pikirnya.
Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang pucat di cakrawala sebelum akhirnya ditelan kegelapan malam. Aris yang kelelahan memutuskan untuk memasak mi instan di dapur. Saat ia sedang menunggu air mendidih, sayup-sayup ia mendengar suara dari balik tembok yang berbatasan dengan unit sebelah.
Sret, sret, sret.
Suaranya seperti sesuatu yang tajam sedang digosokkan ke permukaan keras. Aris terdiam, mematikan kompor agar bisa mendengar lebih jelas. Suara itu berhenti sejenak, lalu terdengar lagi. Kali ini lebih panjang.
"Tetangga sebelah lagi renovasi malam-malam?" Aris membatin. Ia melirik jam di dinding. Pukul delapan malam. Masih wajar untuk sedikit kebisingan, meskipun apartemen biasanya punya aturan ketat soal jam tenang.
Setelah makan, Aris merebahkan diri di sofa ruang tamu sambil membolak-balik koran bekas, mencari lowongan pekerjaan. Rasa kantuk menyerang lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena sirkulasi udara di unit ini yang terasa agak berat.
Tanpa sadar, Aris terlelap di atas sofa dengan lampu ruangan yang masih menyala terang.
Ia terbangun karena rasa dingin yang menusuk tulang.
Aris menggigil, merapatkan kaus tipis yang dikenakannya. Ia melirik jam dinding yang berdetak dengan ritme yang terasa lebih lambat dari biasanya. Jarum pendek menunjuk ke angka satu, jarum panjang tepat di angka dua belas.
Pukul satu pagi.
Keadaan benar-benar sunyi, hingga Aris menyadari ada sesuatu yang salah. Suara detak jam dinding itu tiba-tiba hilang, padahal jarum detiknya masih bergerak. Keheningan itu terasa begitu pekat, seolah-olah ia sedang berada di dalam ruang kedap suara.
Lalu, suara itu kembali.
Sret, krak, sret.
Bukan di unit sebelah. Kali ini, suaranya berasal dari dalam unitnya sendiri. Tepatnya dari balik tembok ruang tamu, hanya beberapa jengkal dari tempatnya berbaring.
Aris mematung. Itu bukan suara benda yang digeser. Itu adalah suara cakaran. Sesuatu yang memiliki kuku-kuku tajam sedang menggaruk dinding beton dari arah dalam.
Aris bangkit berdiri dengan perlahan, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakan denyutnya di pelipis. Ia mendekatkan telinganya ke dinding beton yang dicat warna krem itu. Cakaran itu terdengar ritmis, seolah ada sesuatu yang sedang berusaha menggali jalan keluar.
"Halo?" Suara Aris bergetar, hampir tidak terdengar.
Cakaran itu mendadak berhenti.
Hening kembali berkuasa selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Aris menghela napas lega, menduga itu mungkin hanya suara tikus di dalam pipa. Namun, saat ia hendak berbalik menuju kamar mandi untuk mencuci muka, sebuah ketukan keras terdengar dari pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Aris tersentak. Siapa yang bertamu pukul satu pagi di apartemen yang sistem keamanannya diklaim ketat? Ia berjalan menuju pintu, melihat melalui lubang intip kecil yang terpasang di sana. Koridor di luar tampak kosong. Lampu koridor berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan itu kembali, lebih keras dan lebih mendesak. Padahal, melalui lubang intip, Aris jelas melihat tidak ada siapa pun di depan pintunya. Koridor itu benar-benar kosong melompong.
Aris baru saja akan berbalik untuk mengunci pintu kamar tidurnya saat ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya berdesir hebat. Di bawah celah pintu utama, sebuah cairan kental berwarna merah gelap perlahan-lahan merembes masuk, membasahi karpet yang baru saja ia bersihkan sore tadi.
Bersamaan dengan itu, suara cakaran di balik tembok kembali terdengar, kali ini diikuti oleh bisikan serak yang seolah memanggil namanya dari dalam beton.
"Aris, bukakan ...."
Aris mundur teratur, punggungnya menabrak tembok di belakangnya. Saat ia menoleh, ia melihat retakan kecil mulai muncul di permukaan dinding, dan dari celah retakan itu, sebuah mata manusia yang merah terbelalak sedang mengintip ke arahnya.