


oleh Miss Aquarius · 128 Bab
Terkadang, hidup serba-serbi. Tidak akan ada yang tahu bagaimana endingnya nanti. Begitu pun dengan Inti Aisyiyah bersama teman baiknya—Nurhidayah Sawira. Kisah ini tertulis sebagai bentuk pelajaran, pengalaman dari yang sudah pernah tersakiti, dan mungkin tanpa sengaja Inti pernah menyakiti. Warna-warni hidup, cinta, ataupun rumah tangga sebenarnya tidak pernah terpisahkan. Meski pada akhirnya semua akan kembali ke tempatnya masing-masing. Pasangan, teman, keluarga, dan bahkan siapa pun yang menjadi partner in life, dunia nyata. Akan ada yang pergi dan bertahan.
Inti begitu bahagia dan antusias ketika menceritakan tentang Lettu Erlangga pada salah satu sahabatnya. Saat itu, mungkin mereka berpikir Inti tidak akan jatuh cinta lagi setelah mendapatkan pengkhianatan dari mantan kekasih. Mengenal Lettu Erlangga adalah suatu hal yang indah, sebab hanya terhitung beberapa bulan saja sejak berkenalan, tiba-tiba pria itu memberikan kejutan dengan melamar saat tengah wisuda. Perkenalan mereka pun singkat, hanya selama KKN di Papua dan pertemuan secara tidak sengaja di kompleks para tentara.
Nurhidayah Sawira—sahabat Inti—yang selalu ada dalam suka maupun duka. Mereka adalah dua orang sahabat yang unik, padahal baru mengenal satu sama lain, kurang lebih empat tahun. Keduanya bertemu saat akan test masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, saat itu Hidayah—panggilan akrabnya—tengah berkeliling mencari ruangan khusus fakultas pada jurusan kuliahnya. Secara tiba-tiba Inti datang dan menarik tangan Hidayah, hingga selepas kejadian tersebut mereka menjalin persahabatan yang kuat seperti saat ini.
"I, beli obat, yuk di warung!" ajak Hidayah.
"Buat apa?" tanya Inti dengan polosnya.
"Takutnya kamu belum minum obat, kan? Soalnya dari tadi senyum-senyum sendiri, jadi ngeri," jawab Hidayah.
"Aku mau cerita soal sesuatu, kamu mau dengerin nggak?" Inti menawarkan Hidayah agar bersedia mendengarkan ceritanya.
"Kalau cerita tentang mantan, mending nggak usah, I. Buat mual tahu."
"Nggak, kok." Inti kembali tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa, sih? Dari tadi senyum-senyum sendiri?" Hidayah balik bertanya, karena merasa aneh dengan Inti yang terus tersenyum.
"Seneng aja."
"Oh iya, tuh kan sampai lupa. Tadi ada abang tentara ngasih amplop sama bunga ini, juga coklat, sih. Cuma coklatnya buat Day aja, ya," ucap Hidayah sembari menyengir kuda. "Katanya, sih buat kamu, cuma bukan dari dia, tapi dari salah satu atasannya. Coba kamu baca, Day nggak berani buka," lanjutnya.
Inti yang melihat apa yang Hidayah sodorkan pun menerima dengan baik. "Siapa, I?"
"Nggak tahu, nggak ada namanya cuma ada inisial aja," papar Inti sembari menunjukkan nama pengirim.
"Lettu E P?" beo Hidayah.
Beberapa saat kemudian, gadis itu langsung memekik. "Ah, Day tahu, I. Lettu Erlangga Prasaja, bener nggak?"
Mendengar nama itu keluar dari mulut Hidayah, pun Inti langsung teringat akan seseorang yang dulu selalu bertemu dengannya saat KKN di Papua. Dan saat pagi akan berangkat mengajar seorang diri, ia kembali bertemu. Karena tempat mengajar Inti melewati kompleks para tentara.
Flashback On
Inti berjalan lebih cepat, karena hari sudah beranjak siang. Dia terlambat karena selepas salat Subuh tiba-tiba saja perutnya sakit. Sehingga meminta Hidayah berangkat terlebih dulu. Ia dan Hidayah mendapat rekomendasi dari sekolah tempat mengajar terdahulu, ke sekolah yang baru. Di mana sekolah ini adalah sekolah elit khusus orang-orang berada, yang kebanyakan ayah mereka berprofesi sebagai tentara.
Saat melewati kompleks para tentara, Inti terkejut melihat ada beberapa tentara tengah berdiri sambil berbincang. Salah satu tentara tersebut menatap ke arah Inti dan menghentikan langkah gadis itu.
"Hai, maaf mengganggu. Kamu kenal saya nggak?" tanya Lettu Erlangga, membuat Inti menatap ke arah pria itu dengan intens.
Setelah beberapa saat, Inti pun mengangguk. Ia mengenal pria yang berdiri di depannya itu. Inti dan Hidayah pernah bertemu di sebuah mall, saat Lettu Erlangga mengantarkan sang adik. Pertemuan kedua yaitu saat mereka tengah KKN. Dan terakhir, saat Inti terjatuh dari motor, Lettu Erlangga menolongnya, sedangkan Hidayah malah tertawa lepas, tanpa memberi pertolongan. Memang sahabat kurang ajar.
"Iya, saya kenal, kok. Maaf ada apa, ya, Pak Angga?"
"Tidak ada, saya hanya berniat mengajak berbincang saja. Kamu tinggal di kompleks sini, ya? Mengajar di tempat anak saya sekolah juga?"
Inti mengangguk ragu. "Anak Pak Angga sekolah di sana juga?"
"Iya, anak saya sekolah di sana, baru masuk. Kelas 1A, namanya Aina Erlangga Putri," ujar Lettu Erlangga.
Inti membelalakkan mata mendengar nama anak yang telah Lettu Erlangga sebut. Jadi, anak kecil yang sering datang kepada Inti dan Hidayah dengan meminta banyak bantuan, padahal ada wali kelasnya, itu adalah anak Lettu Erlangga. Mengapa kebetulan sekali ya?
"Hei, kenapa melamun?"
"Nggak, Pak. Aina itu sering meminta bantuan kepada saya atau Day, entah ke kamar mandi, ke kantin, dan ke tempat lainnya," pungkas Inti, membuat Lettu Erlangga terdiam.
"Terima kasih ya, Aina dan kedua anak saya yang lain memang susah dalam bergaul, apalagi dekat dengan orang asing. Hanya orang tertentu saja yang bisa berdekatan dengan mereka. Mungkin ia merasa dekat dengan kamu atau teman kamu itu," jelas pria dewasa di hadapan Inti.
"Oh iya, kamu ada waktu tidak nanti sore? Saya mau ajak makan di kafe dekat sini, saya ingin berkenalan lebih jauh. Kalau diizinkan itu juga," pinta Lettu Erlangga.
Inti mengulas senyum. "Boleh, Pak."
"Satu lagi, kamu terbiasa menerima hadiah tidak? Dari seorang pria?" tanya Lettu Erlangga.
Terdengar klise memang, baru beberapa kali bertemu dengan Inti dan mengamati gadis itu, dia langsung tertarik dan jatuh cinta.
Inti menggeleng. "Banyak yang kasih, cuma saya selalu menolak. Jadi kemungkinan mereka menganggap saya sombong," jawabnya dengan lesu.
Inti pernah jatuh cinta, tetapi karena pengkhianatan jelas tidak akan semudah itu membuka hati. Dengan hadiah tentunya tidak membuat luluh. Dan pokok masalah, pria yang selama ini mendekati pun sama saja. Tidak pernah serius, selalu mempermainkan Inti. Bukan berarti ia ingin langsung menikah, hanya saja Inti mencari pria yang tulus meskipun terbentang oleh usia.
Setelah pertemuan itu, Inti dan Lettu Erlangga menjadi akrab. Ke mana-mana selalu antar-jemput, sehingga Inti merasa tidak enak kepada Hidayah. Namun, gadis itu malah bahagia karena Inti tidak lagi galau memikirkan mantan kekasih, dan bisa membuka hati kepada Lettu Erlangga.
Flashback Off
Mengingat kejadian itu, Inti pun tidak berhenti tersenyum. Selama ini Hidayah tahu kalau dia menyukai Lettu Erlangga ketika bertemu di saat jatuh dari motor.
"Hm, pasti inget sama Pak Angga, deh. Makanya senyum-senyum sendiri. Atau lagi inget pas nyungseb dari motor?" Hidayah tertawa mengingat kejadian lucu itu.
"Diem, Day. Jangan diingetin, bikin malu! Mana banyak tentara lagi pada duduk, tiba-tiba kejadian itu. Kamu bukannya nolongin malah ngetawain!" gerutu Inti.
"Kalau nolongin sahabat lagi kesusahan, itu udah biasa. Nah, ngetawain itu luar biasa," sahut Hidayah dengan tawa yang terus menghiasi wajah cantiknya.
"Ya udah, yuk!" Inti mengangguk atas ajakan Hidayah.
Cinta memang sulit. Tumbuh di waktu dan tempat yang tidak elit. Bagaimana bisa seorang gadis berusia 22 tahun, seperti Inti yang polos, jatuh cinta kepada om-om. Lettu Erlangga mungkin baik, tetapi ia berstatus duda dan memiliki 3 orang anak, yang salah satunya sudah menjadi seorang tentara. Akan menimbulkan pro dan kontra jika mereka berdua bersama dan menjalin hubungan, apalagi pernikahan.

Miss Aquarius
30 Pengikut · 10 Novel