


oleh wulan · 26 Bab
Shanka, Pangeran Kerajaan Siluman Api yang tampan rupawan, harus menjalani pengasingan karena ulahnya yang tanpa sengaja membakar gudang penyimpanan bahan makanan kerajaan. Pada dasarnya Shanka ini memang nakal. Puncak kemurkaan ayahnya adalah saat Shanka berlatih memanah tapi salah target, malah membakar gudang penyimpanan. Ayahnya, Raja Sakala, berpikir harus memberi hukuman sekaligus pelajaran untuk Shanka. Ayahnya meminta bantuan dukun kerajaan untuk mengutuk dan mengirimnya ke dunia manusia, berwujud kucing hitam yang penyakitan. Kutukan akan hilang bila Shanka berhasil menemukan seorang wanita yang dengan tulus menyayangi dan merawatnya dengan baik. Apakah Shanka berhasil mematahkan kutukan dan kembali menjadi tampan?
"SHANKA, dasar anak kurang ajar, anak bandel. Ratuku, aku menyerah, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana mendidiknya. Bahkan guru-guru di kerajaan sudah angkat tangan. Lebih baik anak itu aku beri hukuman agar sadar dan jera," ucap Raja Siluman Api.
Ratu Rehanna mengusap-usap dada suaminya yang murka akibat kecerobohan anak bungsunya. Dia sadar bahwa dia sudah terlalu memanjakan Shanka, yang mengakibatkan sikap dan sifat Shanka menjadi nakal dan seenaknya saja. Shanka hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.
Ratu setiap hari memikirkan apa yang diucapkan suaminya. Mungkin dengan menghukum Shanak dia akan sadar kalau perbuatannya sudah menyusahkan orang-orang disekitarnya.
Sementara Ratu termenung memikirkan ucapan suaminya, para prajurit sibuk memadamkan api yang semakin berkobar. Api tersebut sudah melahap sebagian gudang penyimpanan makanan. Semoga masih ada yang bisa diselamatkan karena isi dari gudang tersebut adalah bahan makanan untuk satu tahun ke depan.
Shanka berlari ke sana kemari lalu menyembunyikan dirinya di kandang kuda. Dia memukul kepalanya sendiri sambil berkata," Bodohnya aku. Kenapa aku tidak memperhatikan arah angin? Padahal Guru Soka sudah mengajarkan harus memperhatikan arah angin. Ayah pasti marah besar ini."
Tubuh Shanka gemetar saking takutnya akan kemarahan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal dirinya yang harus menyiapkan mental menghadapi ayahnya.
Tanpa disadari Shanka tertidur di kandang kuda. Mungkin karena kelelahan dan ketakutan. Keesokan harinya, Sang Putra Mahkota tanpa sengaja menemukan adik bungsunya.
Perlahan dia membangunkan adik bungsunya. Sang adik pun terbangun sambil mengucap "Ampun ayah, aku minta ampun. Jangan hukum aku dengan berat," ucapnya.
Akash tersenyum mendengar ocehan adiknya. Dia cuma geleng-geleng kepala karena saat itu mata adiknya terpejam tapi kakinya bersimpuh.
"Dek, melek dulu. Aku bukan ayah walau ayah mencarimu kemana-mana," ucapnya.
Shanka membuka matanya dan langsung memeluk kakaknya. Terlihat kelegaan bukan ayahnya yang menemukannya.
"Bantu aku Kak. Aku tidak mau dihukum ayah dengan berat. Aku sadar aku sudah bersalah. Aku takut mendengar teriakan ayah" ucap Shanka. Dengan tubuh gemetar Shanka memohon kepada kakaknya untuk melindunginya dari kemarahan Sang Ayah.
Akash mengangkat tubuh adiknya yang bersimpuh. Kemudian dia memeluknya sambil berkata,"Kamu sekarang bukan anak kecil lagi yang setiap berbuat kesalahan bersembunyi di belakangku. Kamu harus siap menerima konsekuensi dari perbuatanmu. Baik itu yang dianggap benar ataupun yang salah." Shanka berdiri dan memeluk kembali kakaknya dengan erat. Akash pun terkejut dengan sikap si bungsu ini. Tubuhnya bergetar mungkin dirinya takut menghadapi ayah yang sampai sekarang pun masih marah pada Shanka.
"Iya Kak, aku akan menghadap ayah dan meminta maaf. Aku akan menerima akibat dari perbuatanku ini walau sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya. Tapi temani aku ya kak, aku takut kalau menghadapi ayah sendiri" ucapnya.
Akash hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya ini. Akash hanya bisa mengangguk karena dia ingin adiknya ini pulang ke istana. Dia tidak tega melihat kekhawatiran Ibunda Ratu.
Akash merangkul adiknya dan mengajaknya pulang ke istana. Dengan langkah berat Shanka mengikuti kakaknya.
Saat melihat Akash membawa Shanka, semua penjaga memberi hormat begitu pun dengan para prajurit yang berlalu lalang.
Akash membawa Shanka ke kamarnya. Dia meminta adiknya untuk bersih-bersih dahulu sebelum menemui ayahnya. Shanka menuruti permintaan kakaknya. Shanka bergegas membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan pakaian yang layak. Tidak lama kemudian Shanka sudah rapi dan Akash masih menunggunya. Akash tidak meninggalkan Shanka karena takut adiknya kabur.
Shanka heran melihat kakaknya masih ada di depan kamarnya. Tapi Shanka tidak ambil pusing. Akash yang melihat adiknya sudah rapi langsung mengajaknya makan dahulu. Shanka mengangguk karena memang dia merasa lapar. Dari kejadian kemarin sampai tadi Akash dia belum makan.
Tibalah mereka di ruang makan, Akash meminta pelayan untuk menyiapkan makanan bagi Shanka. Tidak lama kemudian makanan sudah terhidang di atas meja. Harumnya makanan membuat perut Shanka berbunyi. Shanka melihatb ke arah Akash dan Akash menganggukkan kepalanya tanda dia mempersilahkan Shanka makan.
Akash melihat adiknya yang makannya lahap itu merasa iba. Dia tahu kalau ayahnya akan memberikan hukuman yang cukup berat pada adiknya. Tapi dia tidak tega untuk memberitahunya. Biarlah nanti Shanka mengetahuinya sendiri. Yang Akash tahu ayahnya memanggil dukun kepercayaan ayahnya hari ini.
Akash tidak mengetahui tujuan ayahnya memanggil dukun itu. Semoga saja bukan sesuatu yang tidak baik yang diminta ayahnya.
Shanka sudah selesai makan. Perutnya kenyang dan dia bersendawa. Melihat itu terbesit pikiran kalau makanan yang dimakan Shanka tdi adalah makan terakhirnya di ruang makan ini. Tapi Akash abaikan pemikiran itu.
Akash kemudian mengajak Shanka menemui ayah mereka. Sang Raja sedang berbicara dengan dukun Sheerkan. Akash mengucapkan salam kepada ayahnya begitu juga dengan Shanka.
Raja Sakala terkejut akan kedatangan kedua anak laki-lakinya. Saat melihat Shanka amarah Raja Sakala kembali hadir. Dengan penuh amarah dia memanggil Shanka. Shanka menoleh ke Akash tapi Akash hanya tersenyum seraya berkata,"Cepat kau penuhi panggilan ayah, jangan kau buat ayah marah lagi."
Dengan badan yang gemetar Shanka menghampiri ayahnya. Dan bersimpuh di hadapannya sambil berkata," Maafkan Shanka, Ayah. Shanka tidak sengaja. Shanka tidak memperhatikan ajaran Guru Soka. Ampuni Shanka, Ayah."
Dikarenakan Shanka berulang kali berbuat keributan dan menimbulkan masalah, Raja Sakala tidak tergerak hatinya untuk memaafkan Shanka kali ini. Dia sudah bertekad untuk memberi hukuman agar Shanka jera dan bersikap dewasa.
Raja Sakala berdiri dan menghampiri Shanka. Tubuh Shanka makin gemetar mendengar langkah kaki ayahnya yang mendekat. Shanka tidak berani mengangkat wajahnya.
"Shanka, kamu anak bungsuku, kamu juga menjadi harapan ayah agar kamu suatu saat nanti menjadi pemimpin selain kakak laki-lakimu. Kamu harus diberi hukuman agar kamu bersikap dewasa dan tidak menimbulkan masalah lagi" ucap Raja Sakala.
Shanka memberanikan diri untuk menatap ayahnya. Shanka berpikir hukuman apa yang akan diberikan. Dia memberanikan diri menanyakannya.
"Hukuman apa, Ayah? Shanka takut tidak akan bisa menjalani hukuman tersebut. Shanka sadar sudah berbuat salah selama ini. Ampuni Shanka, Ayah. Jangan hukum Shanka," ucapnya.
"Kamu akan ayah kirim ke dunia manusia, kamu akan merenungi kesalahanmu tapi tidak dengan wujudmu yang ini. Kamu akan ayah kutuk menjadi seekor kucing berwarna hitam. Kucing yang sangat buruk di dunia manusia. Kutukan dan hukumanmu itu akan berakhir saat kamu menemukan seorang wanita yang menyayangimu dengan tulus dan dia juga merawatnu dengan baik," ucap Raja Sakala.

wulan
2 Pengikut · 1 Novel