"Aku di mana?" tanya Mirah pada diri sendiri dalam hati.
Mirah dalam posisi berdiri tanpa alas kaki. Ia meraba pakaian yang menempel ditubuhnya. Seperti gaun dengan panjang selutut. Ia pun meraba kepala dan tidak ada yang berubah di sana.
Semua nampak samar di sekeliling Mirah. Hanya keheningan yang terasa.
Aku tahu sepertinya ini, mimpi. Hanya saja, hati nurani dan logika Mirah kini sedang berperang.
"Ini nyata."
"Salah, salah. Ini mimpi." Secara berulang, suara dalam hati Mirah terus memenuhi kedua gendang telinganya.
Bimbang. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini. Sedikit rasa takut mulai muncul.
Mirah memutuskan berjalan. Kabut tebal dengan setia menemani langkahnya. Kedua mata ini terus bersiaga, layaknya kedua telinga Mirah. Akalnya tidaklah habis. Tiba-tiba ia mengeluarkan hembusan udara dari dalam mulut. Asap tipis pun terlihat.
"Berarti udara di sini dingin. Tapi, kenapa aku tidak merasakan apa pun?" Kembali ia bertanya dalam hati.
Bertambah bingung. Namun, ia terus melanjutkan langkah ini.
Hingga kedua matanya memicing.
"Rumah?" Diusap cukup keras satu mata ini. Mirah melakukannya hanya untuk memastikan.
"Eh, bukan. Aku ada di ...."
"Jadi ini ruangan?" Rasa bingung ini benar-benar hampir membelenggunya.
Ditambah tiba-tiba sekelilingnya mulai muncul deretan panjang berbentuk kotak. Benda yang terlihat kokoh itu mengelilingi gadis itu. Ketika benda-benda itu muncul, sebuah cahaya menyertainya. Tidak perlu menebak lagi, yang tiba-tiba muncul itu adalah tembok.
Drap.
Begitulah kira-kira suara langkah kaki Mirah terdengar.
Kreek.
Ada suara lain yang tiba-tiba terdengar dari arah tempat ia semula berdiri.
Kedua alis ini dibuat seketika berkerut.
"Ini, seperti ruangan. Lalu itu pintu?" Kembali Mirah dibuat bertambah bingung dengan rasa penasaran yang muncul berkali lipat.
"Jadi maksudnya, aku ada di dalam sebuah ruangan dengan tembok itu. Lalu di sana, ada pintu. Begitu?" Kini ia sudah benar-benar berdiri di depan pintu. Namun, kembali perhatian Mirah teralih, karena merasakan sesuatu bergerak naik di telapak kakinya yang tanpa alas ini.
"Rum-put?" tanya Mirah bingung karena penampakan yang sangat meragukan.
Hanya dari tekstur juga aromanya yang khas, Mirah dapat mengenali.
Gelengan kepala dilakukannya.
"Takut atau ragu." Sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Mirah menggerakan kepala dan pandangan matanya mencoba mencari sumber suara itu, menjadi sedikit liar.
Kini, berganti suara tawa sesaat terdengar dibarengi sebuah cahaya tiba-tiba menyoroti ke arah Mirah.
Kreek.
Suara yang tadi sempat terdengar kini muncul kembali dengan dibarengi pintu dihadapannya terbuka.
"Si-siapa?!" Akhirnya Mirah memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan dengan nada cukup tinggi.
"Jika kau bersedia masuk. Aku akan memperkenalkan diri," jawab suara itu.
Mirah meneguk salivanya. Berkali-kali, secara bergantian ia melihat ke arah pintu dan juga ke atas.
Rasa penasaran ini yang akhirnya membuat Mirah mengalah dan melangkah masuk.
"Ini memang mimpi. Cuman di alam ini, semuanya bisa bergerak sendiri dan suara-suara penuh imajinasi itu muncul," gumamnya pelan.
"Hahaha. Gadis polos dengan selera humor yang aku suka." Suara tadi kembali terdengar.
Kali ini Mira tidak terkejut lagi. Namun ada rasa kesal yang tiba-tiba saja muncul.
"Hei, kau yang di sana. Aku tuhu, kalau kamu ilusi!" ucap Mirah kembali dengan nada tinggi dan posisi bertolak pinggang. Satu jarinya diacungkan ke segala arah.
Terlihat sedikit menantang memang karena Mirah ingin suara itu segera memperlihatkan wujud aslinya.
"Hehm, ilusi ya?" Suara itu merespon dengan nada serta kalimat yang terdengar mempermainkan.
"Dengar, aku tidak pernah takut sama apapun termasuk hantu. Aku takutnya cuman sama Tuhan!" Mirah terus berusaha memprovokasinya.
Namun lagi-lagi suara tawa terbahak bergemanya terdengar.
"Kau pikir, siapa yang menciptakan aku?" tanya suara itu.
Masih dengan bertolak pinggang dalam keadaan siaga.
"Hahaha. Tentu saja Tuhan yang kau sembah setiap hari itu." Suara itu terus melakukan tarik-ulur padaku.
"Dipikir-pikir, kau curang juga ya. Aku tidak bisa melihatmu sedangkan kau hingga ke kotoran hidungku pun terlihat olehmu." Kembali aku mencoba memprovokasinya.
Zeeesh.
Desiran angin cukup kencang tiba-tiba muncul. Kedua mata ini kembali dibuat memicing.
"Dengar gadis kecil, kita akan bertemu sebentar lagi."
"Aku sangat berharap kau bisa dengan sabar menunggu waktu itu. Ingat kata-kataku ini, kau akan bertemu dengannya, barulah nanti kita akan bertemu secara langsung." Suara itu berkumandang sekali lagi di saat angin terus menerpaku.
Memang agak samar terdengar. Namun, lucunya Mirah dapat mengetahui setiap kata yang diucapkan.
"Hei, hei. Apa maksudmu?!" tanya Mirah.
Sayangnya, gagal.
Angin itu terus menerpa tubuh Mirah, hingga membuatnya perlahan terdorong dan dibuat melayang tinggi. Di saat yang sama, kembali secara tiba-tiba tubuh Mirah seolah diterjunkan begitu saja. Kedua mata ini terbelalak sesaat yang kemudian berganti terpejam dengan kuat.
Di sebuah kamar.
Bulir peluh membasahi sekujur tubuh seorang gadis berusia belia. Bukan hanya itu, semua jemari gadis itu nampak meremas seprai kedua sisi kasur yang ditidurinya.
Suara mengigau pun terdengar sesekali.
"Aaakh!" Suara teriakkannya membuat si gadis terbangun.
Dogh.
Cekcekcek.
Suara ketukkan pintu cukup kasar dengan gagangnya yang coba di buka pun ikut terdengar. Si gadis yang masih duduk di atas kasurnya dengan napas tersengal melihat ke arah pintu. Hanya bisa memandangi dalam diam sambil terus mencoba mengatur napasnya.
"Sayang, sayang. Kamu kenapa?" Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu. Nadanya terdengar cukup tinggi dan panik.
Braak.
Hingga pada akhirnya daun pintu kamar itu didobrak. Sepasang pria dan wanita paruh baya masuk. Mereka masih mengenakan pakaian tidur dengan wajah khawatir langsung menghampiri si gadis. Wanita paruh baya lalu memeluk sesaat tubuh si gadis sedangkan pria paruh baya memeriksa ke seantero kamar.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" cecar si wanita paruh Baya. Dilepaskan pelukannya sambil memeriksa cepat kondisi si gadis.
Gadis itu mengguratkan senyum tipis sambil menggelengkan pelan kepalanya.
"Aku, aku tadi mimpi, Bun," jawab si gadis agak terbata.
Kembali tubuhnya ditarik dan pelukkan agak erat dilakukan oleh si wanita paruh baya. Dielus dan ditepuk pelan punggung si gadis.
"Mau kami temani." Kini giliran pria paruh baya yang mengeluarkan suara sambil memegang salah satu jemari si gadis.
Kembali gelengan kepala pelan diberikan sebagai jawaban dan tidak lupa senyum tipis si gadis terus diperlihatkan.
"Bun, Yah. Aku tadi mimpi," si gadis berusaha menjelaskan namun seketika ucapannya terpotong oleh si wanita paruh baya yang tidak lain adalah sang ibunda.
"Ssst, itu cuman mimpi sayang. Lebih baik sekarang kamu tidur lagi ya. Bunda sama ayah bakal nemenin." Sang ibunda melepas pelukkannya perlahan sambil mendorong pelan tubuh sang anak.
Si gadis pun menurut dan kembali berbaring.
Sang ibunda pun membenahi selimut gadis belia itu. Dilanjutkan dengan menepuk pelan salah satu tangan sang anak.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara halus napas sang anak dengan kedua mata yang sudah terpejam. Sang ayah sempat melambaikan sesaat satu tangannya ke arah wajah sang anak, untuk memastikan bahwa benar gadis belia itu sudah kembali tertidur.
Kedua pasangan orang tua paruh baya itu saling menatap sesaat dan kemudian memberikan anggukan pelan hampir bersamaan.
"Mas, bagaimana ini?" tanya Sang wanita paruh baya pada sang suami dengan suara agak berbisik.
Pria paruh baya yang baru saja selesai menutup pintu kamar sang anak agak menunduk. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana. Terlihat wajahnya sedang berpikir agak keras. Kedua tangan sang istri yang meraih serta meremas perlahan lengannya, membuat pandangan sang pria beralih.
"Sebaiknya, kita biarkan dia tenang dulu," ucap sang suami yang juga berbisik.
"Tapi, bagaimana kalau." Ucapan sang istri segera disanggahnya.
"Bun, jangan berandai-andai. Ayah takut, kita bakal banyak salahnya ditambah mental ini bisa terganggu. Ayo, kita kembali tidur juga." Sang suami meraih tangan sang istri sesaat setelah mencoba menenangkan dengan kalimat cukup tegasnya.
........