Braaak.
Pintu kontrakan kayu tua didobrak, hingga terdengar benturan yang cukup keras. Membuat debu kapur beterbangan di udara dalam ruang kontrakan sempit itu.
"Maira!"
Suara ibu Maira melengking membelah keheningan sore, yang hanya diisi bunyi decitan lelah dari kipas angin tua.
Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu, dengan tangan di pinggang. Mengedarkan pandangan dengan wajah merah padam. Terlebih ketika netra itu terkunci pada Arham, suami putrinya.
"Ibu, kenapa Ibu di sini?" tanya Maira, segera menghampiri dan mencium tangan dengan takzim.
Dan hal yang sama dilakukan oleh Arham. Jalannya yang sedikit pincang, karena terjatuh ketika sedang bekerja menjadi kuli bangunan. Menghampiri sang mertua untuk menyapa, sambil mengulurkan tangan.
Alih-alih menyambut, sang mertua justru mendengkus kesal. Rasanya tak sudi mengotori tangannya untuk bersalaman.
Arham hanya bisa tersenyum, kembali menarik uluran tangan yang tak bersambut. Seakan sudah paham, kare ni buka kali pertama terjadinya.
"Ibu, jangan seperti itu," bisik Maira tak nyaman.
"Sebaiknya kamu diam saja, Maira!” Ibu Maira menoleh padanya, jari telunjuk menunjuk tajam. "Sudah Ibu katakan sejak kemarin, sebaiknya kamu pulang ke rumah!"
Ibu Maira masuk ke dalam kontrakan sempit itu, tanpa melepas alas kaki. Meneliti setiap ruang kecil, yang terasa menyesakkan walau hanya untuk bernapas dengan kening berdenyut nyeri.
"Ibu, apa yang Ibu katakan? Ini tempat tinggalku bersama Mas Arham dan−"
"Tempat tinggal?!" pertanyaan ketus itu menyela. "Apa kamu benar-benar betah tinggal di gubuk tikus ini?!" Dan netra tajam itu kini tertuju pada Arham. "Lihatlah dia! Setiap hari pulang dengan aroma semen, aroma lumpur! Kapan dia bisa memberimu rumah layak? Kapan dia bisa memberimu makan enak?!"
"Ibu, kami ...."
Kalimat itu terputus, ketika tangan Arham yang kasar menggenggam tangan istrinya lembut. Gelengan pelan dan senyuman itu cukup membuat Maira patuh untuk diam.
Arham mengangkat wajah pelan. Matanya lelah, tapi suaranya terdengar tetap tenang.
"Maafkan saya, Bu, karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk Maira. Tapi saya akan lebih bekerja keras," tutur Arham tanpa meninggikan nada bicara sedikit pun.
"Kerja keras?!" Ibu Maira tertawa sinis. "Dengan menjadi kuli bangunan! Sampai kapan? Sampai punggungmu bungkuk? Sampai anak cucumu juga jadi kuli? Itu bukan masa depan, Arham! Itu neraka!"
Dan kalimat itu rasanya terdengar sangat menyakitkan. Arham berusaha tetap tersenyum, walau ada getaran di sudut bibirnya.
Sedangkan Maira sudah tak kuasa untuk menahan air mata yang ingin merembes keluar sejak beberapa waktu yang lalu.
Cinta. Ya, mereka saling mencintai satu sama lain. Cinta yang membuat Arham dan Maira membuat janji suci secara siri dan secara diam-diam hanya dengan restu ayah Maira yang sudah telah meninggal satu bulan yang lalu.
Dan ketika ibu Maira mengetahui pernikahan itu, berhasil membuatnya naik pitam. Dan hari ini, tepat setelah Arham menjanjikan kehidupan yang layak untuk Maira satu tahun yang lalu, sang mertua datang lagi.
Untuk apa?
Tentu saja untuk menagih janji. Dan janji itu tak pernah bisa terpenuhi sampai sekarang.
"Mana kehidupan layak yang kamu janjikan waktu itu, hah?!"
"Ibu!"
"Diam, kamu Maira!" Untuk yang kesekian kalinya bentakan itu tanpa ragu keluar. "Sampai saat ini tak ada satu pun kehidupan putriku yang terlihat membahagiakan!"
"Aku bahagia, Bu. Kami saling mencintai. Aku bahagia dengan−"
"Bahagia dengan menjadi gembel seperti ini? Cinta tidak membuat perutmu kenyang, Maira!" bentak sang ibu. "Kamu pikir cinta saja bisa bayar tagihan? Bisa bayar obat kalau kamu sakit? Bisa membeli barang yang kamu inginkan?!"
"Aku bahagia dengan kehidupan seperti ini, Bu." Air mata Maira mulai menetes. "Aku tidak peduli apa yang terjadi, selama bersama Mas Arham, aku bahagia."
"Dasar tidak waras. Apa kamu kebanyakan makan rumput, hingga tidak bisa berpikir?" Nada suara sang ibu berubah dingin. "Kenyataannya Arham tidak bisa memberimu apa-apa. Sampai kapan kamu akan terus bertahan dengan kehidupan menyedihkan ini?"
Genggaman tangan Arham semakin erat. Ada getaran halus di sana, tapi ia terlalu pintar untuk mengendalikan rasa sakit yang tengah menyelimuti benaknya sekarang.
"Saya janji, Bu. Saya akan bekerja lebih giat. Saya akan mencari tambahan atau pekerjaan yang lebih baik. Tolong beri saya waktu."
"Bukankah aku sudah memberimu waktu satu tahun?!" Ibu Maira menepis udara seolah kata-kata itu kotoran. "Dan hasilnya sama saja! Sempit, panas, berdebu! Cukup! Hari ini juga kalian harus berpisah!"
"Tidak!" Maira berteriak, memeluk lengan suaminya erat-erat. "Ka-kami ... aku tidak mau bercerai! Aku tidak mau, Bu!"
Perdebatan berlangsung alot. Ibu Maira bicara soal pengorbanan orang tua, soal menanggung malu karena putrinya yang harus hidup miskin karena salah pilih suami.
Sedang Arham hanya bisa diam. Mendengarkan setiap hinaan, setiap kata tajam yang ditujukan padanya. Karena semua itu adalah kenyataan.
Ya, semua itu adalah kebenaran.
Tak ada rumah mewah, bahkan sederhana. Bahkan ketika netranya tertuju pada sang istri, uluh hati Arham terasa perih. Melihat penampilan lusuh sang istri yang jauh dari kata layak.
'Apa aku menyiksanya selama ini? Mengikat dengan kata cinta, nyatanya yang bisa kuberikan hanya sebuah kemalangan yang tak berujung,' batin Arham bertutur pilu.
"Jika kamu benar-benar mencintai putriku, seharusnya kamu bisa melepaskannya. Melepaskan untuk mendapatkan kehidupan layak dan lebih baik!"
Dan semua kebenaran itu membuat pertahanan Arham runtuh dengan seketika.
"Jika kamu masih menghormatiku, lepaskan putriku sekarang juga, Arham!!"
Lantai semen yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang saat Arham berlutut di hadapan sang mertua.
"Mas Arham , apa yang Mas lakukan?"
"Kalau dengan perpisahan ini kehidupan Maira akan lebih baik. Maka aku−"
"Mas!" pekik Maira yanh saat ini berdiri tepat di hadapan Arham. "Bangun, Mas. Apa yang ingin kamu katakan? Kamu ingin kita berpisah? Bukankah kita akan selalu bersama? Bukankah itu yang kamu janjikan, Mas?"
Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Maira, di sela isak tangis dan air mata yang semakin deras keluar.
"Maira, kamu harus lepas dari laki-laki tidak berguna ini!"
"Maafkan Mas, Maira," ucap Arham sambil menelan ludah dengan susah payah.
Mata Arham yang berkaca-kaca menatap Maira, wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Wanita yang kini terisak pilu di depannya.
"Aku menjatuhkan talak satu padamu, Maira."
Suasana membeku hanya untuk beberapa saat, sebelum Maira menjerit, memeluk suaminya erat-erat hingga tubuh yang bergetar hebat.
"Tidak! Arham, jangan! Jangan lakukan ini! Aku tidak mau! Aku tidak mau!"
Arham mengusap air mata di pipi istrinya dengan jari telunjuk yang kasar dan bergetar.
"Pergilah, Maira. Pergilah dan hidup dengan baik."
Ibunya segera menarik tangan Maira dengan kasar. "Sudah! Pergi dari sini!"
"Ibu, lepaskan! Aku tidak mau pergi!"
Maira meronta, kakinya menendang udara, dengan mata terus menatap suaminya yang tetap berlutut di lantai semen yang dingin.
"Arham! Tolong aku! Jangan biarkan aku pergi!"
Arham tidak bergerak. Membiarkan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya. Sama sekali tak kuasa melihat wajah Maira, yang tengah memanggil namanya saat ini.
Kontrakan itu perlahan menjadi sunyi. Terlalu sunyi. Hanya menyisakan seorang pria yang terlalu pengecut untuk membuat janji lagi.
"Maira, maafkan, aku."
Bersambung