


oleh Jen04 · 100 Bab
Clara Rechellia, gadis galak dan mandiri, terjebak dalam pernikahan mendadak dengan Nathan Aksaranata pria kaya, jahil dan arogan diam-diam terluka oleh cinta masa lalunya, Rinna. Awalnya, Nathan membenci Clara, tapi seiring waktu, ketangguhan dan ketulusan gadis itu meluluhkan hatinya. Nathan difitnah melakukan pelecehan dan ditahan. Demi membebaskan pria yang dicintainya, Clara terpaksa menerima tawaran Aizar Kennedy meninggalkan Nathan dan ikut ke Jepang. Enam tahun berlalu, Nathan menjadi pengacara sukses, Clara memimpin brand kosmetik. Takdir mempertemukan mereka kembali dengan luka lama yang masih membekas. Akankah cinta mereka bertahan menghadapi dendam dan pengkhianatan? Bagaimanakah akhir cinta Clara dan Nathan?
Pagi cerah menyapa sebuah kamar kecil dengan dekorasi sederhana yang bersih dan rapi.
Seorang gadis cantik dengan rambut diikat dua tampak masih terlelap di atas kasur mungilnya.
Mendadak ia terbangun dan matanya tertuju pada jam dinding. Ia langsung membelalak.
"Astaga, sudah jam segini! Hampir telat lagi!” serunya panik dan mengucek matanya.
Gadis itu, Clara Rechellia, si cantik yang tinggal di rumah sederhana.
Karena kepintarannya dia mendapatkan beasiswa di sekolahnya.
Setelah tahu bakal telat, ia langsung bangkit dengan tergesa-gesa dan merapikan tempat tidurnya asal-asalan.
Tak membuang waktu, ia segera berlari menuju kamar mandi untuk mandi, lalu mengambil baju seragamnya dan bersiap-siap ke sekolah.
Tak lama kemudian, Clara keluar dari kamar mandi dengan seragam SMA yang sudah rapi melekat di tubuhnya. Ia mematut diri di depan cermin sambil tersenyum tipis dan memberi sentuhan terakhir dengan lipstik warna pink natural.
Setelah merasa cukup, ia turun ke lantai bawah dengan langkah cepat karena kebetulan kamar Clara di lantai atas.
Walau rumahnya sederhana tapi berlantai dua.
Di ruang tengah yang sederhana, ibunya, Eilyn Rechellia, duduk bersandar di sofa sambil meneguk obat yang sudah biasa diminum dari gelas kecil untuk meredakan sakit batuknya.
Wajahnya tampak pucat, tapi tetap memancarkan senyum hangat ketika melihat putrinya datang dengan seragam sekolah rapi. Clara menghampiri dan duduk di sampingnya, lalu mencium pipi ibunya dengan lembut.
"Ibu sudah makan? Jangan terlalu capek ya, Bu,” ucapnya dengan nada cemas.
"Sudah kok, Nak. Tadi ibu makan bubur dan ibu panasin tadi. Ibu juga baru minum obat," jawabnya sambil tersenyum sambil memegang gelas air putih.
Clara menghela napas lega dan mengambil roti di meja untuk sarapan. "Ibu kalau merasakan ada rasa yang kurang nyaman, tolong beritahu aku ya. Jangan ibu pendam sendiri, aku nggak mau kalau suatu saat ibu kenapa-napa," pintanya lembut sambil mengelus tangan Eilyn pelan.
Eilyn tersenyum kecil mendengar bawel anaknya dan membelai rambut putrinya.
"Ibu akan baik-baik saja. Kamu harus fokus semangat sekolah ya. Ibu akan bilang kamu kalau kenapa-napa.”
Clara mengangguk mantap, memasukkan roti terakhir ke mulutnya sebelum berdiri dan menyalami ibunya. "Aku berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Jaga diri baik-baik, Nak."
Eilyn tersenyum manis dan berdiri di depan pintu mengantar anaknya.
Clara melambaikan tangan sambil menaiki sepeda kesayangannya. Ia tersenyum ceria saat melaju meninggalkan rumah.
Namun, di balik senyum itu, Eilyn menahan batuk yang tiba-tiba menyerang, dan setetes darah mengalir dari sudut bibirnya. “Aku harus kuat demi putriku.”
##
Di tempat lain, sebuah rumah mewah dengan desain klasik berdiri megah.
Di ruang kerja, seorang pria paruh baya berwajah tegas mengerutkan kening melihat laporan di mejanya.
Aksaranata Savero, seorang perwira polisi terkenal dengan disiplin kerasnya, mendengkus kesal membaca laporan itu sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Anak itu lagi! Selalu saja seperti ini!" geramnya sambil memijat pelipis. “Harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan anak itu. Huh!”
Di sebelahnya, istrinya manis wanita berkelas, Amora Briana Aksaranata, berusaha menenangkan suaminya.
"Sabar, Mas. Jangan terlalu keras pada Nathan. Dia memang sulit diberitahu. Tapi, pasti dia punya alasan seperti itu mas.”
"Apa? Alasan apa! Ini sudah ke sekian kalinya dia tawuran!" Savero meletakkan berkas dengan kasar. "Anak polisi kok begini. Mas malu mendengar beberapa temen polisi yang membicarakan putra kita.”
Amora terdiam mendengar hal itu dan ia sadari kalau perkataan suaminya itu memang benar adanya.
Memang sering Nathan berkelakuan buruk tapi, Amora selalu berusaha membelanya apalagi ia satu-satunya putra kesayangannya.
Tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut berantakan muncul sambil menguap.
Wajahnya yang tampan tampak acuh tak acuh menatap lirikan mata tajam Savero.
"Ada apa, Yah?" tanyanya malas. "Apa ada masalah lagi?” Sembari menguap dan posisi berdiri tampak ia kecapean karena waktu tawuran membuat badannya lelah.
Savero menatapnya tajam tanpa menggubrisnya. "Nathan Aksaranata! Duduk!"
Nathan menurut dan duduk dengan santai, tak peduli tatapan tajam ayahnya yang ingin menerkamnya.
“Baca sendiri! Itu pasti tahu kan hal itu, Nathan!” Melihat laporan tawuran itu, ia hanya mendecak pelan.
"Cuma masalah kecil yah. Kenapa sih dibesar-besarkan?"
"Kecil katamu? Sudah berapa kali kamu tawuran, Nathan! Mau sampai kamu seperti ini! Huh!” Savero berdiri, mengambil tongkat kayu dari sudut ruangan.
Nathan langsung bangkit dan mundur perlahan dan ia tahu itu pertanda tidak baik.
"Ayah, santai dulu dong, tolong jangan seperti ini!”
"Kamu harus dikasih pelajaran! Mau ke mana kamu!”
Savero mulai mengejar dengan tongkat terangkat. Nathan lari terbirit-birit sambil memanggil ibunya.
"Bu! Tolong! Ibu!”
Amora hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil melihat ulah anak dan suaminya. "Anak itu memang tak pernah kapok. Maafkan ibu ya nggak bisa bantu kamu,” gumamnya pelan.
Nathan terus berlari, berusaha menghindari kejaran ayahnya yang mulai ngos-ngosan.
Ketika merasa aman, ia menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya tak lagi mengejar. “Sepertinya ayahku nggak mengejar aku lagi. Huft. Leganya."
Nathan tersenyum pelan dan jalan lagi tapi, tiba-tiba ada suara teriakan mengagetkannya. "NATHAN!"
Nathan terlonjak kaget saat melihat ayahnya sudah berdiri di belakangnya, lengkap dengan senyuman licik dan tongkat di tangan. "Yah! Ampun! Jangan Ayah!”
Savero menurunkan tongkatnya dan menjewer telinga Nathan.
“Akh, ampun Ayah!" rengeknya meringis dengan mencebikkan bibirnya mengaduh kesakitan.
##
Di sekolah, Clara sudah tiba lebih dulu dan masuk ke kelas dengan langkah ringan.
Tiba-tiba, seorang gadis berambut pirang mendekatinya dengan senyum cerianya.
"Clara!" serunya riang menyapa Clara yang sudah duduk duluan.
Clara menghela napas, sudah tahu siapa pemilik suara itu. "Hai, Daisey. Ada apa?"
Daisey Maelani langsung memeluk lengan Clara. "Tugas matematika udah kamu kerjain kan? Boleh nyontek nggak?"
Clara menatapnya malas. "Bukannya kemarin aku sudah bilang kerjain sendiri? Kenapa harus nyontek lagi?”
Daisey memasang wajah memelas, matanya berkaca-kaca. "Ayolah, sekali ini saja. Aku ketiduran soalnya jadi lupa ngerjain.”
Clara akhirnya menyerah dan mengeluarkan bukunya. "Ya sudah, cepetan nyonteknya sekarang. Nanti guru datang.”
Daisey langsung sumringah sambil membuka buku Clara dengan cekatan. "Makasih ya!"
Clara hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang konyol itu.
Setelah tugas dikumpulkan, mereka berdua pergi ke kantin.
Daisey memesan dua mangkuk bakso dan menatap Clara yang nampak cemas. "Eh, duitku nggak cukup. Aku nggak jadi makan, Daisey." Clara mendesah sambil menghitung recehan di sakunya.
Daisey tersenyum dan menepuk bahunya. "Tenang aja, ini traktiranku karena kamu membantu aku tadi soal contekan. Kamu makan saja."
"Ah, tapi mending kamu saja yang makan. Aku belum lapar."
Clara menggeleng pelan menolak makanan dari Daisey
"Sudah! Nggak usah menolak Clara, cepat makan saja, oke.”
Clara akhirnya menerima dan makan dengan lahap. "Makasih, Daisey."
Daisey menyengir bangga. "Santai aja! Eh, katanya bakal ada murid baru masuk sekolah kita lho."
Clara menaikkan alis. "Murid baru? Cowok apa cewek?"
"Katanya cowok. Dengar-dengar sih tampan!" Daisey tersenyum malu-malu.
Clara menahan tawa melihat Daisey sudah membayangkan sesuatu. "Jangan banyak melamun, deh. Bisa-bisa malah nggak fokus belajar nanti.”
"Eh, hahaha. Siapa tahu dia jodohku!" Daisey tertawa sendiri.
Sementara Clara hanya menggeleng tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu."Terserah kamu deh. Suka banget ngehalunya.”
Kegiatan sekolah pun berlangsung dengan suasana yang berisik, pikirnya Clara tetap merasa ada sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
“Semoga saja murid barunya nggak akan menyebalkan," gumam Clara dengan sambil memakan traktiran dari Daisey.

Jen04
10 Pengikut · 13 Novel