


oleh Bunga Hitam · 32 Bab
Dayat harus berjuang mengambil putrinya kembali. Setelah sepuluh tahun dalam penjara karena fitnah. Ia harus berhadapan dengan ayah mertuanya yang berniat menjadikan Menur, sebagai pewaris tunggal ilmu hitamnya. Tanda lahir berupa tompel berwarna merah menyala yang berada di balik bahu Menur merupakan warisan terkutuk yang harus dihilangkan. Bagaimana cara Dayat mengapus warisan terkutuk yang menempel pada putrinya?
Langit terlihat berwarna jingga kemerahan karena senja telah membalut langit. Tampak seorang lelaki berpakaian atasan baju koko berwarna marun dan celana panjang hitam komprang, berjalan tenang menyusuri jalanan Dusun Suka Maju. Langkahnya tegap dan pasti. Ia memburu waktu agar sampai di tempat sebelum waktu Magrib.
Wajah kerasnya mendominasi seluruh roman mukanya, rambutnya panjang sebahu dan sebuah kupluk berwarna gelap menghiasi kepalanya. Tangannya sesekali membetulkan kembali tali tas ranselnya. Rupanya, dari kejauhan sudah terdengar bedug tanda Magrib. Keadaan kampung yang sepi membuat lelaki itu tak menjadi soal. Memang kampung ini tak banyak penduduknya. Langkah panjangnya langsung menuju ke sebuah surau kecil di sudut kampung Suka Maju.
"Assalamuallaikum." Ucapan salamnya langsung disambut oleh sebuah suara yang sedikit parau.
"Wallaikumsalam."
"Maaf, saya baru datang dari jauh, boleh menumpang sholat?"
"Alhamdulillah, silakan Nak, pintu ini terbuka untuk semua," balasnya sopan dari lelaki yang sudah uzur.
Lelaki yang meminta izin itu pun tersenyum, lalu melepas sandalnya kemudian berjalan sambil membungkuk sedikit dan bersalaman dengan lelaki uzur tersebut.
"Terima kasih, Pak. saya boleh berwudhu?"
"Silakan, Nak, ada sedikit air di tempayan, kemarau ini membuat kami, harus irit dalam pemakaian."
"Terima kasih, Pak."
Kembali ia berjalan sedikit membungkuk kembali sebagai tanda sopan santun pada orang yang lebih tua. Beberapa jema'ah sholat Magrib mulai berdatangan. Namun, hanya bisa dihitung dengan jari saja. Semuanya tak ada sepuluh orang. Kemudian, lelaki uzur itu pun yang mengimami shalat Magrib berjama'ah malam ini.
Masih terpekur dalam dzikirnya seusai shalat. Lelaki itu masih terus menundukkan wajahnya, karena ada sebagian dari mereka yang ia kenal.
Sudah 10 tahun lebih meninggalkan kampung ini. Kenangan lama kembali terlintas perlahan. Rasa rindu mendera dalam batinnya. Ingin sekali untuk memeluk putri semata wayangnya yaitu Melati Nur Sukma.
"Nak. Apa ada yang bisa saya bantu? Sepertinya, ada masalah yang sangat berat." Tiba-tiba saja suara parau itu mengangetkan lelaki itu, ia pun yang langsung mendongak. Ternyata surau sudah sepi, hanya dirinya dan lelaki uzur itu.
"Maafkan saya, Pak." Ia pun hendak bangkit dan berlalu. Namun, sebuah tangan mencegahnya.
"Apa aku mengenalmu? Wajahmu seakan tak begitu asing bagiku."
Lelaki itu langsung tertegun dan mencoba berpaling dari tatapan mata uzur yang ternyata begitu awas penglihataannya.
"Saya, sa-ya Dayat, Pak."
"Ya Allah, benar perkiraanku sedari tadi, kau Dayat!"
"Maafkan saya, Pak. Sa-ya ...."
"Rumahmu sudah rata dengan tanah, tak ada lagi bangunan di sana, ini sudah malam, istirahatlah di surau ini."
Sebuah penawaran yang Dayat harapkan, ia pun tak tahu menahu mengapa rumahnya sudah tak ada.
"Maafkan, aku tak bisa banyak cerita tentang rumahmu, apakah kau-"
Belum juga selesai lelaki uzur itu bertanya. Dayat menyela.
"Maaf, Pak. Saya hanya mau menjemput anak saya," kata Dayat lirih.
Lelaki uzur itu terdiam. "Sekarang berbeda dengan yang dulu, sebaiknya kau istirahat di sini, tapi saya sarankan matikan lampunya. Jangan ada cahaya sedikitpun, saya harus pulang. Waktu isya jarang ada yang mau shalat di surau ini. Ingat ya, jangan keluar malam ini, matikan lampu dan tidurlah, besok baru kau teruskan maksud dan tujuanmu."
"Tapi, Pak ...."
"Jangan membantah! Aku mau pulang dulu. Ingat matikan lampunya, jangan ada cahaya sedikitpun, kalau mau aman."
Lelaki uzur tersebut langsung meninggalkan Dayat sendirian. Ia nampak tergesa-gesa untuk pulang. Dayat berjalan mendekati pintu surau yang memang tak terkunci, lalu ia menutupnya sesuai perintahnya, Dayat pun mematikan satu-satunya lampu penerang yang ada di surau tersebut.
Sejam kemudian waktu isya pun tiba, terpaksa Dayat menyalakan lampu surau tersebut karena ia akan mengambil air wudu di samping surau yang memang gelap gulita. Samar-samar dari ventalasi surau, tempat tempayan air itu terlihat. Dayat segera berwudu, ia gunakan air seirit mungkin, ia menyisakan air yang diperkirakan bisa untuk wudu sekali lagi untuk subuh nanti.
Wuzz! Sesaat angin besar menerpa wajah Dayat. Lelaki itu tertegun sesaat. Matanya segera mengawasi area setempat yang gelap. Sebenarnya ia hafal dengan semua jalan di desanya, tetapi setelah 10 tahun berlalu ternyata banyak perubahan yang ia temui.
Dayat lalu segera berjalan menuju surau kembali, tanpa ragu segera melaksanakan shalat isya tanpa diburu-buru. Tak lama terdengar sayup-sayup lolongan anjing dari kejauhan. Dayat mengembuskan napasnya perlahan, bulu kuduknya langsung berdiri. Ia terus berdzikir sambil berjalan lalu mematikan saklar lampu surau. Bukannya takut, ia hanya memenuhi amanah dari lelaki uzur tersebut yang merupakan marbot surau ini berpuluh-puluh tahun lamanya. Pak Abdulah namanya. Dayat pun baru teringat tadi saat satu persatu ingatannya kembali hadir.
Lolongan dari binatang malam itu masih saja terdengar. Dayat terus berdzikir tanpa henti. Matanya terus mengawasi pintu surau walaupun dalam gelap.
Satu jam, dua jam pun berlalu tanpa banyak kejadian. Tubuhnya yang lelah membuat Dayat sempat terlelap. Tas ranselnya ia jadikan alas kepala. Sebuah tikar melindungi tubuhnya dari dinginnya lantai.
Malam ini, angin tampak berembus sedikit kencang. Gemerisik daun terdengar mengusik pendengaran Dayat. Kembali mata lelaki itu terbuka lagi.
Ada apa sebenarnya? Tak biasanya ada perasaan aneh dalam batinnya. Ia pun kembali duduk, ia pepetkan punggungnya ke tembok. Perlahan ia ambil sebuah tasbih dari sakunya. Tasbih yang istimewa, tasbih itu bisa bersinar dalam gelap. Tasbih fosfor pemberian salah satu sahabatnya membantu Dayat untuk bisa melihat keadaan sekitarnya.
Perlahan bibirnya mulai melafalkan asma Allah. Berulang kali tasbih itu berputar dalam jari jemari Dayat.
Tiba-tiba saja, terdengar derit pintu surau di dorong dari luar. Dayat tak menghentikan dzikirnya.
Krieet!
Suara pintu terbuka terdengar lagi. Seketika angin pun berdesir. Dayat segera memasukkan tasbih ke dalam sakunya kembali. Kini ia melanjutkan dzikirnya dengan menghitung ruas jarinya.
Semua hening. Tak ada angin atau pun derit pintu lagi. Mata Dayat melihat sesuatu dalam gelap berjalan masuk dan mengitari ruangan dalam surau. Sosok bagai bayangan hitam yang berjalan.
Sosok apakah yang masuk ke dalam surau?

Bunga Hitam
76 Pengikut · 10 Novel