


oleh Wilda Puspita · 46 Bab
Akibat kesalahan yang berujung pada kesalahpahaman yang tidak dia lakukan, dia terpaksa menjadi tawanan mafia biadab yang menjadikan dirinya budak nafsunya, hingga harus menanggung benih yang tumbuh di rahimnya dari pria bedebah gila itu. “Bagaimana jika wanita itu hamil? Apa yang akan kau lakukan?” “Aku akan menggugurkan janin itu detik itu juga!”
Seseorang tidak akan pernah tahu tragedi apa yang sekarang tengah menantinya. Di dunia fana ini, kita hanyalah pemeran dari skenario yang telah tercipta.
***
Jam weker yang berada di atas nakas berdering di angka lima, menit ke empat lima, membangunkan sosok yang masih meringkuk di dalam selimut putih polosnya. Mata sayunya perlahan terbuka, menoleh, tangannya terulur mematikan jam yang sedari tadi terus berdering itu.
Bergegas ia bangkit dan melangkah masuk ke kamar mandi. Tak memakan banyak waktu—ia telah siap dengan seragam jeans panjang serta baju kaos putih polosnya. Sedikit mempoles wajahnya dengan foundation dan lipgloss menambah aura kecantikan yang wanita itu miliki.
Dengan langkah lebar ia menuju dapur, menggoreng nasi goreng telur ceplok sebagai sarapan pagi sebelum ia berangkat menuju kampus.
"Kay?" Wanita yang dipanggil namanya itu berbalik badan, tersenyum lebar menatap seseorang yang berlari kecil menghampirinya.
“Maaf telat, apa kamu sudah lama menunggu?” tanya wanita yang kini berdiri di depannya.
Kayshila menggeleng. Masih dengan seulas senyuman dia menyahut, "Tidak aku juga baru sampai. Yuk.” Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam bangunan putih di depannya, lantas berpisah menuju gedung fakultas masing-masing.
Kayshila Putri salah satu mahasiswi yang berhasil memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya di Uncle Sam. Mengambil jurusan sastra inggris. Mahasiswi tekun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya.
"Literature is a group of works of art made up of words. Most are written, but some are passed on by word of mouth."
Kayshila mencatat bait demi bait yang diucapkan oleh dosen di depan papan tulis sana. Tiga mata kuliah akhirnya selesai, Kayshila membereskan segala peralatan tulisnya masuk ke dalam tas raselnya kemudian bergegas menuju ruangan sang sahabat.
“Permisi, apa Kylie ada di dalam?” tanyanya pada pria yang kebetulan berpapasan dengannya di pintu masuk FOB itu.
“Dia baru saja keluar,” sahut pria tersebut seraya melanjutkan derap langkahnya.
Kayshila mengernyitkan kening. Tumben Kylie tidak menunggunya? Dia merogoh hp dalam saku jaketnya, menelpon nomor sahabatnya. Tidak aktif. Kemana Kylie pergi? Tidak biasanya sahabatnya itu pergi tanpa memberitahunya.
Sudahlah. Kayshila menggeleng, tak mau mempermasalahkan. Mungkin Kylie ada urusan mendadak hingga lupa memberitahunya.
Kayshila lantas melanjutkan derap langkahnya menuju kantin. Memesan segelas latte dan beberapa cemilan.
"Hey, girl. Sendiri, aja?”
Kayshila mendongakkan kepala kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya tatkala melihat siapa sosok yang menyapanya itu.
Melihat tak ada tanggapan apapun dari Kayshila, pria itu pun menarik kursi di depannya. ”Where's Kylie? Biasanya kalian selalu bersama.”
"Kenapa tiba-tiba kau mencarinya? Apa kau ingin mengganggunya lagi?" ketusnya tanpa mengalihkan pandangannya dari keyboard laptop di depannya.
“Don't get me wrong. Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin.”
“Benarkah?” tanyanya dengan seulas senyum sarkastik. “Terus tunggu apa lagi? Kenapa kau tidak datang dan meminta maaf langsung ke rumahnya?”
Pria bernama Alex itu terkekeh geli.” Oh, c’mon, Kay. I don't want to die in vain.”
“Apa maksudmu?” Kayshila menatap pria itu tajam dengan kening yang tampak mengerut.
Alex menghembuskan napas kasar. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memandang lekat wanita yang duduk terhalang meja di depannya.
“Aku hanya ingin memperingatimu, berhati-hatilah berteman dengannya.”
lagi-lagi omongan kosong itu. Kayshila memutar bola mata malas. Entah sudah berapa orang yang memperingatinya dengan hal yang serupa.
“Sebaiknya, kau pergi kalau hanya ingin menyebarkan rumor yang tidak berguna, Lex.”
“Ini demi kebaikanmu, Kay.”
Kayshila menghela napas jengah. Tak membalas ucapan dari pria tersebut.
"Itu bukan hanya sekedar rumor belaka. Apa kamu tidak pernah menaruh curiga, mengapa banyak orang yang tidak mau berteman dengannya?" Alex jeda sejenak kemudian melanjutkan, "Itu karena kakaknya—”
“Cukup!” Kayshila mengangkat telapak tangannya, menyuruh Alex untuk tidak melanjutkan omongan kosongnya.
"Apa pun statement yang kalian buat, itu sama sekali tidak akan berpengaruh padaku."
Dengan perasaan dongkol, Kayshila membereskan segala peralatan tulisnya, memasukkan ke dalam tas ranselnya lantas beranjak pergi dari tempat tersebut menuju Cafe tempatnya bekerja.
Selama ini, selain menjadi Mahasiswa, Kayshila juga bekerja sebagai part time di salah satu Cafe yang berada tak jauh dari tempatnya tinggal. Alasan mendasar dia ingin mencari pundi-pundi penghasilan lainnya, selain uang beasiswa per-bulannya. Sehabis dari kampus wanita itu akan bergegas ke tempat kerja. Mengganti pakaiannya juga di tempat kerja.
Demi menghemat biaya, kadang, Kayshila membawa bekal yang ia buat sendiri. Sama seperti sekarang wanita itu menyantap masakan yang ia bawa bersama dengan karyawan lainnya.
"Kay, kenapa kamu tidak buka restoran sendiri saja?"
Kayshila tersenyum bukan kali pertama pertanyaan itu dilontarkan padanya.
"Iya, benar, masakanmu sangat enak. Aku yakin kalau kamu buka restoran sendiri, pasti akan laku, " ucap karyawan lainnya.
"Apalagi masakan ini, masakan Indonesia. Belum ada di daerah sini, benarkan teman-teman?"
Mereka semua menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan wanita berbadan Endomorph itu.
"Doakan saja, semoga aku punya biaya untuk buka restoran sendiri."
Mereka semua mengaminkan doa wanita berkulit langsat khas wanita Indonesia itu.
Tidak ada yang tidak tahu, bagaimana kegigihan Kayshila dalam mengenyam pendidikan, juga kegigihannya dalam bekerja.
"Kenapa kamu harus bekerja? Kan, sudah ada uang bulanan yang kamu terima dari beasiswamu?"
Kayshila mengulas senyuman. "Aku hanya ingin menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam dunia kerja."
"Bukan karena uang?" tanya wanita berambut blonde tersebut.
"Iya, kamu benar. Itu adalah poin utama." Mereka berdua tergelak.
Jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kayshila bergegas mengganti pakaiannya, bersiap untuk meninggalkan Cafe.
Ia merogoh tas ranselnya, hendak memastikan tidak ada pesan penting yang masuk. Kayshila mengerutkan keningnya, ada begitu banyak panggilan dari Kylie.
Tumben, wanita itu menelponnya sebanyak ini? Namun, lagi-lagi nomor Kylie tidak aktif saat ia menghubunginya balik.
Sudahlah, besok saja ia bertanya pada wanita bermata abu-abu itu, mungkin saja Kylie ada keperluan penting dengannya.
Kayshila berjalan sendirian, menyusuri lorong jalan setapak, tampak sunyi. Sebagian orang sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Derap langkah Kayshila reflek terhenti, dua meter di depannya, tampak tubuh seorang wanita yang tergeletak tak sadarkan diri. Gegas, dia berlari, menghampiri wanita tak sadarkan diri itu.
Matanya seketika terbelalak. Sontak membekap mulutnya sendiri saat membalikkan tubuh wanita tersebut.
"Kylie!" Tangannya gemetar karena takut. Dari sela rambut kecoklatan Kylie terdapat cucuran darah yang keluar.
"Kylie, bangun, Ky. Tolongggg." Kayshila tak dapat membendung air matanya yang hendak keluar. Meraung-raung meminta pertolongan, tapi tak seorang pun yang datang.
Namun, tak berselang dari itu, beberapa pria dengan seragam kepolisian datang mengepung tempat tersebut.
"Angkat tangan, dan jangan bergerak."

Wilda Puspita
14 Pengikut · 5 Novel