“Ini semua
salahmu, Arini! Kalau saja kamu lebih berhati-hati, bayi itu tidak akan
meninggal!” Suara tinggi Dian memecah keheningan ruang tamu rumah mertuanya.
Arini berdiri
mematung dan tubuhnya gemetar. Air matanya sudah habis sejak malam sebelumnya
ketika ia menerima kenyataan pahit bahwa bayinya yang ia lahirkan secara
prematur tidak mampu bertahan. Namun, ucapan Dian seperti pisau yang kembali
mengiris hatinya. Ia mencoba menjelaskan, meskipun suaranya bergetar.
“Aku sudah
melakukan yang terbaik. Aku juga tidak ingin ini terjadi,” jawab Arini pelan
hampir mirip berbisik.
“Cukup, Arini!” Bu
Mirna, ibu mertuanya seketika langsung menyela. Wanita paruh baya itu memandang
Arini dengan tatapan dingin. “Apa gunanya bicara kalau hasilnya tetap sama?
Kamu sudah gagal menjadi seorang ibu. Bayi itu meninggal karena kamu tidak becus!
Tidak ada alasan lain!"
Arini menguatkan
diri untuk tetap berdiri tegak meskipun dadanya terasa sesak. Ia tahu tidak
peduli apapun yang ia katakan, keluarga suaminya tidak akan mendengarkan. Dian
dan Bu Mirna sudah membencinya sejak awal ia menikah dengan Adi, suaminya.
Namun, kali ini berbeda. Tuduhan mereka terasa seperti racun yang perlahan
membunuhnya.
“Bu, aku mohon.
Jangan berkata seperti itu. Aku juga kehilangan anakku.” Suara Arini bergetar,
tapi ia tetap memandang Bu Mirna dengan tatapan penuh harap. Ia berharap
setidaknya ada sedikit belas kasih dari wanita yang selama ini ia panggil ibu
mertua.
“Kehilangan? Kamu
tidak pantas bicara soal kehilangan, Arini. Kamu bahkan tidak bisa menjaga
anakmu sendiri. Kamu hanya membawa sial bagi keluarga ini!” Bu Mirna
membentaknya.
Arini terdiam.
Napasnya seketika tercekat. Kata-kata itu terlalu menyakitkan. Ia ingin membela
diri dan ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun,
tapi lidahnya terasa kelu.
Saat itu, Adi
masuk ke ruangan. Arini meliriknya dan berharap suaminya akan membelanya,
seperti yang seharusnya dilakukan seorang suami. Ternyata itu salah. Adi hanya
berdiri di ambang pintu dengan wajah datar seolah-olah ia tidak peduli dengan
apa yang sedang terjadi.
“Mas Adi?” Arini
memanggil pelan dengan ekspresi penuh harap. Namun, Adi hanya menghela napas
panjang. “Arini, sudahlah. Jangan memperpanjang masalah ini. Kamu juga harus
introspeksi diri. Mereka tidak sepenuhnya salah.”
Kalimat itu
menghancurkan hati Arini dab terasa lebih perih. Ia tidak percaya Adi, orang
yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya, justru menyalahkannya. Arini menatap
suaminya dengan mata penuh kekecewaan.
“Jadi kamu juga
menyalahkanku?” tanyanya lirih.
Adi menghindari
tatapan Arini. “Aku hanya ingin semuanya tenang. Aku lelah, Arini.”
“Lelah? Aku juga
lelah! Aku baru saja kehilangan anakku! Anak kita!” Arini akhirnya kehilangan
kendali. Suaranya meninggi dengan tangis yang ia tahan sejak tadi pecah. “Kamu
tahu bagaimana sakitnya melahirkan bayi prematur? Bagaimana rasanya melihat
anak kita tidak bisa bertahan? Namun, di saat aku membutuhkanmu, kamu malah
berpaling!"
Adi terdiam. Ia
tidak menyangka Arini akan berbicara seperti itu. Bukannya merasa bersalah, Adi
justru menggelengkan kepala dengan wajah muram.
“Kalau kamu tidak
bisa menerima ini, mungkin lebih baik kita berpisah dulu untuk sementara,” ucap
Adi dingin.
Perkataan itu
membuat Arini mundur selangkah. Ia menatap Adi dengan mata yang membelalak.
“Apa kamu ingin meninggalkanku?”
“Aku hanya ingin
waktu untuk berpikir,” jawab Adi singkat.
Arini tidak bisa
berkata-kata lagi. Ia merasa seperti ditinggalkan di tengah badai sendirian
tanpa ada seorang pun yang peduli. Saat itu ia sadar bahwa ia tidak punya lagi
tempat di rumah ini.
***
Malam harinya
Arini duduk di sudut kamar sambil memeluk bantal yang masih basah oleh air
matanya. Kamar itu terasa begitu asing, meskipun ia sudah tinggal di sana
selama bertahun-tahun. Ia sudah paham jika dirinya tidak lagi diterima di rumah
ini. Dian dan Bu Mirna terus menyalahkannya, sementara Adi bahkan tidak mencoba
untuk membelanya.
Pikirannya
berputar-putar. Ia teringat senyum bayinya yang hanya sempat ia lihat sebentar
sebelum napas terakhirnya terhenti.
Hatinya terasa
kosong seolah-olah separuh jiwanya telah hilang. Namun, di tengah kesedihan
itu, ada suara kecil di dalam dirinya yang berbisik. Suara itu berkata bahwa ia
tidak bisa terus seperti ini. Ia harus bangkit, meskipun ia tidak tahu
bagaimana caranya.
Keesokan paginya,
Arini memutuskan untuk berbicara dengan Adi. Ia berharap mungkin suaminya akan
berubah pikiran.
Mungkin Adi hanya
sedang marah dan membutuhkan waktu untuk merenung. Namun, harapannya pupus
begitu ia melihat koper yang sudah tersusun di depan pintu kamar. Adi berdiri
di sana dengan wajah datar seperti biasa.
“Kamu mau pergi?”
tanya Arini meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Adi mengangguk.
“Aku butuh waktu sendiri.”
“Lalu aku?” Arini
menatapnya tajam. “Bagaimana denganku? Aku baru saja kehilangan anak kita. Apa
kamu tidak peduli?”
“Aku peduli, tapi
aku juga manusia. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua?"
Arini menggigit
bibirnya untuk mencoba menahan tangis. Ia tahu tidak ada gunanya memohon pada
Adi. Jika suaminya sudah memutuskan untuk pergi, tidak ada yang bisa ia lakukan
untuk mencegahnya.
“Baiklah,” jawab
Arini akhirnya. Suaranya terdengar dingin jauh dari kelembutan yang biasanya ia
miliki. “Kalau itu yang kamu mau, silakan pergi. Lalu jangan pernah kembali
jika kamu hanya akan membawa luka lagi.”
Adi tertegun, tapi
ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil kopernya dan pergi, lalu
meninggalkan Arini sendirian di rumah itu.
Sehari setelah
kepergian Adi, Arini memutuskan bahwa ia tidak bisa tinggal di rumah mertuanya
lagi. Ia tahu, Dian dan Bu Mirna tidak akan berhenti menyalahkannya. Ia juga
ingat bahwa dirinya tidak akan pernah dianggap sebagai bagian dari keluarga ini
lagi.
Meskipun dengan
hati yang berat, Arini mulai mengemas barang-barangnya. Ia hanya membawa apa
yang benar-benar ia butuhkan dan meninggalkan semua kenangan buruk di rumah
itu.
Saat ia berjalan
keluar rumah untuk terakhir kalinya, Dian berdiri di ambang pintu sambil
melipat tangannya di depan dada.
“Baguslah kalau
kamu pergi. Rumah ini akan tenang jika tidak ada kamu di sini,” sindir Dian.
Arini tidak
menjawab. Ia hanya menatap Dian dengan mata yang penuh luka sebelum akhirnya
melangkah pergi. Karena tidak ada gunanya berdebat. Ia harus melangkah maju
meskipun jalan di depannya gelap dan penuh ketidakpastian.
Arini berjalan di
trotoar seraya membawa koper kecil di tangannya. Ia tidak tahu ke mana ia harus
pergi. Ia tidak punya keluarga dekat, bahkan tidak punya teman yang bisa ia
mintai bantuan. Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerah.
“Ke mana aku harus
pergi sekarang?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Langkahnya
terhenti di depan sebuah taman kecil. Ia duduk di bangku kayu sambil memandang
langit yang mulai mendung.
Hujan sebentar
lagi akan turun, tapi Arini tidak peduli. Ia memejamkan mata mencoba
menenangkan pikirannya. Namun, di tengah keheningan itu, sebuah suara kecil
muncul di dalam benaknya. Suara itu berkata, 'Bangkitlah, Arini. Hidupmu belum
berakhir.'
Arini membuka
matanya perlahan dan menatap lurus ke depan. Ia tahu, ia harus menemukan
kekuatan untuk memulai kembali. Namun, bagaimana caranya? Di mana ia harus
memulai?
“Apakah aku bisa
melewati semuanya?” bisiknya dengan suara yang nyaris terisak.
Hujan mulai turun
dan membasahi wajahnya. Namun, Arini tidak bergerak. Ia hanya duduk di sana
membiarkan hujan menyapu semua rasa sakitnya dan berharap ia bisa menemukan
jawabannya.